TARAKAN,
Penakaltara.com – Tsunami Politik di Tarakan mulai kembali meningkat dengan
berbagai isu yang beredar. Kadang kala isu Politik yang di larikan dengan adanya kampanye hitam maupun
money politik (politik uang) dari setiap pasangan calon (paslon) yang ingin terpilih
dan dipilih oleh masyarakat.
Menurut
Kornelius Silalahi selaku Korda Relawan Jokowi Centre (RJC) Provinsi Kaltara
mengatakan politik di Bumi Paguntaka mulai bergulir dengan adanya Pemilihan
Walikota ( Pilwali) periode 2018 – 2022. Dari ke empat paslon yang sudah
ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan mempunyai sifat dan karakter
yang berbeda.
“Inilah
masyarakat harus melihat dan mengetahui siapa paslon yang akan bertarung nanti,
jangan gunakan hak pilihnya asal-asalan ataupun golput,” Kata Kornelius saat
ditemui penakaltara.com, Rabu (11/4).
Salah
satu pemuda ini yang juga menjabat di Bidang Humas, Lembaga dan Politik di
Dewan Adat Dayak (DAD) Tarakan, berkeinginan dalam pesta demokrasi yang akan berlangsung
2018 ini, agar berjalan kondisif dan baik. Masih kata dia, bahwa wawasan pesta
demokrasi sering sekali dilarikan berdasarkan ras, agama, suku dan wilayah.
“yang
dimaksudkan adalah cara pendekatannya. Jangan sampai ada keributan di medsos
yang sering terjadi karena adanya black campaign, nanti akan memperkeruh
suasana. Itu memang biasa tapi jangan dibiasakan,” ungkapnya.
Kemudian,
tidak jarang pula para paslon melakukan money politik (politik uang) untuk
merangkul massa sebagai pendukungnya. Dengan cara memberi bantuan kepada
lembaga-lembaga tertentu menjelang masa pemilihan atau masa kampanye.
“bisa
dikatakan NPWP (Nomor Piro Wani Piro). Ini kan merusak namanya pesta demokrasi,
dan ini yang harus dihindarkan,” tegasnya.
Kondisi seperti ini memang mewarnai dinamika politik di beberapa daerah di
Indonesia khususnya Tarakan yang akan melakukan pilkada serentak. Selain itu,
janji yang diberikan kepada masyarakat. Seharusnya, janji yang disampaikan pada
masa kampanye mempunyai dampak yang baik terhadap masyarakat agar pembangunan
daerah lebih maju.
“Apa janjinya, jangan di telan mentah. Kita harus lihat janji bisa
dilaksanakan atau cuman hanya ucapan. dan dapat membangun daerah atau kepentingan
sendiri,” tuturnya.
Makanya,
pemuda harusnya bisa memiliki kesadaran politik tinggi untuk melihat sosok pemimpin.
Jangan sampai terbuai dengan apa yang disampaikan, lebih baik di ajak duduk
bersama antara paslon, pemuda dan masyarakat untuk diskusi bersama terkait permasalahan
yang ada di daerah.
“lebih
baik duduk bersama masyarakat diskusi. Karena itu lebih enak mendengar keluh
kesah masyarakat secara langsung dan permasalahan daerah yang belum ada jalan
keluarnya. Kan dari situ bisa di lihat paslon yang ingin membangun daerahnya. Kalau
perlu diskusi bersama seperti ini sering terjadi, ketika sudah menjabat pun
harus ada,” terangnya.
Redaksi***



Komentar Anda: