Last Updated 2018-04-11T15:58:30Z




TARAKAN, Penakaltara.com – Tsunami Politik di Tarakan mulai kembali meningkat dengan berbagai isu yang beredar. Kadang kala isu Politik yang  di larikan dengan adanya kampanye hitam maupun money politik (politik uang) dari setiap pasangan calon (paslon) yang ingin terpilih dan dipilih oleh masyarakat.

Menurut Kornelius Silalahi selaku Korda Relawan Jokowi Centre (RJC) Provinsi Kaltara mengatakan politik di Bumi Paguntaka mulai bergulir dengan adanya Pemilihan Walikota ( Pilwali) periode 2018 – 2022. Dari ke empat paslon yang sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan mempunyai sifat dan karakter yang berbeda.

“Inilah masyarakat harus melihat dan mengetahui siapa paslon yang akan bertarung nanti, jangan gunakan hak pilihnya asal-asalan ataupun golput,” Kata Kornelius saat ditemui penakaltara.com, Rabu (11/4).

Salah satu pemuda ini yang juga menjabat di Bidang Humas, Lembaga dan Politik di Dewan Adat Dayak (DAD) Tarakan, berkeinginan  dalam pesta demokrasi yang akan berlangsung 2018 ini, agar berjalan kondisif dan baik. Masih kata dia, bahwa wawasan pesta demokrasi sering sekali dilarikan berdasarkan ras, agama, suku dan wilayah.

“yang dimaksudkan adalah cara pendekatannya. Jangan sampai ada keributan di medsos yang sering terjadi karena adanya black campaign, nanti akan memperkeruh suasana. Itu memang biasa tapi jangan dibiasakan,” ungkapnya.

Kemudian, tidak jarang pula para paslon melakukan money politik (politik uang) untuk merangkul massa sebagai pendukungnya. Dengan cara memberi bantuan kepada lembaga-lembaga tertentu menjelang masa pemilihan atau masa kampanye.

“bisa dikatakan NPWP (Nomor Piro Wani Piro). Ini kan merusak namanya pesta demokrasi, dan ini yang harus dihindarkan,” tegasnya.

Kondisi seperti ini memang mewarnai dinamika politik di beberapa daerah di Indonesia khususnya Tarakan yang akan melakukan pilkada serentak. Selain itu, janji yang diberikan kepada masyarakat. Seharusnya, janji yang disampaikan pada masa kampanye mempunyai dampak yang baik terhadap masyarakat agar pembangunan daerah lebih maju.

“Apa janjinya, jangan di telan mentah. Kita harus lihat janji bisa dilaksanakan atau cuman hanya ucapan. dan dapat membangun daerah atau kepentingan sendiri,” tuturnya.

Makanya, pemuda harusnya bisa memiliki kesadaran politik tinggi untuk melihat sosok pemimpin. Jangan sampai terbuai dengan apa yang disampaikan, lebih baik di ajak duduk bersama antara paslon, pemuda dan masyarakat untuk diskusi bersama terkait permasalahan yang ada di daerah.

“lebih baik duduk bersama masyarakat diskusi. Karena itu lebih enak mendengar keluh kesah masyarakat secara langsung dan permasalahan daerah yang belum ada jalan keluarnya. Kan dari situ bisa di lihat paslon yang ingin membangun daerahnya. Kalau perlu diskusi bersama seperti ini sering terjadi, ketika sudah menjabat pun harus ada,” terangnya.


Redaksi***
Bagikan:

Unknown

Komentar Anda: