![]() |
| PERBAIKAN SANITASI: Asisten II Setprov Kaltara H Syaiful Herman secara simbolis membongkaran lanting atau WC terapung di Bulu Perindu, Senin (8/4). |
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Pemerintah Provinsi Kaltara melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang,
Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPR-Perkim) melakukan program penataan
lingkungan di wilayah pinggiran kota. Salah satunya melalui pengembangan
sanitas yang dilaksanakan di daerah Tanjung Rumbia dan Bulu Perindu, Kecamatan
Tanjung Selor.
“Pengembangan sanitasi di
kawasan ini, guna mendukung penerapan perilaku hidup dan sehat. Sehingga
berdampak positif bagi kesehatan warga setempat. Selain itu, juga untuk
penataan lingkungan di Tanjung Selor, sebagai ibu kota provinsi Kaltara,” kata
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setprov Kaltara H Syaiful Herman, Senin
(8/4).
Dalam program ini, Syaiful
yang didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Roswan menyebutkan, 2018 lalu
ada 144 unit sarana sanitasi bagi rumah tidak layak huni (RTLH) yang dibangun
di Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia. “Jumlah yang kita bangun ini disesuaikan
dengan hasil survei terhadap kondisi rumah yang akan dibantu pemasangan
sanitasinya. Syarat lainnya, yang kita bantu harus memiliki legalitas
tanahnya,” ujarnya.
Pembangunan sarana sanitasi
terhadap RTLH, dilakukan dengan cara memindahkan lanting (WC terapung)
dari pinggir sungai ke dalam rumah. Melalui ini, diharapkan masyarakat yang
biasa melakukan aktivitas mandi, cuci dan kakus (MCK) di sungai, kini berpindah
ke rumah. Utamanya untuk buang air, sekarang dilakukan di kakus rumah
masing-masing.
“Pengembangan sanitasi ini,
bentuk septic tank dengan biofil. Sistem ini sesuai standar dari Dinas
Kesehatan. Karena kualitasnya terjamin dan tahan lama,” ujarnya.
Untuk teknisnya sendiri,
Roswan menyebutkan, program bantuan pengembangan sanitasi RTLH di dua wilayah
tersebut, didanai melalui APBD Provinsi Kaltara senilai Rp 1,6 miliar. Dengan
rincian, tiap rumah mendapatkan bantuan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Dimana Rp
12,5 juta untuk material bangunan dan Rp 2,5 juta untuk upah tukang.
“Kami menyiapkan bahan
pembangunan kakusnya. Kalau untuk pengerjaannya, yang memiliki rumah itu
sendiri. Namun kita berikan upah tukang Rp 2,5 juta. Nanti setelah selesai baru
boleh dibayarkan (ongkos tukangnya),” jelas Roswan.
Tahun ini, program tersebut
kembali dilanjutkan. Dialokasinya anggaran sekira Rp 1,155 miliar. “Tahapan
kini masih dilakukan proses survei lokasi,” ujarnya. (humas)




Komentar Anda: