| SIAP KERJA : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie saat mengunjungi SMK Negeri 2 Tarakan, belum lama ini |
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Upaya
pemerintah meningkatkan pendidikan melalui program vokasi, menunjukkan hasil
positif di Kalimantan Utara (Kaltara). Hal ini terbukti dengan besarnya serapan
tenaga kerja dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di provinsi termuda
di Tanah Air ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat
Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK tahun 2018 di Provinsi Kaltara sebesar
4,15 persen.
Artinya 95,85 persennya, lulus SMK di Kaltara terserap di berbagai
dunia usaha.
Dari data yang dirilis BPS
itu juga, Kaltara menempati posisi terbaik ke-2 secara nasional setelah
Provinsi Bali. “Sesuai informasi yang disampaikan Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan (Disdikbud) Kaltara, pada 2018 ada lebih dari 2.700-an lulusan SMK
di Kaltara. Dari jumlah itu, hanya 4,15 persen yang belum terserap ke dalam
dunia kerja. Selebihnya telah bekerja,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto
Lambrie.
Dari 4,15 persen ini juga,
menurut informasinya, tidak semua belum bekerja. Sebagian. ada yang bekerja
mandiri, atau yang termasuk sebagai blogger. “Mereka tidak tercatat sebagai
pekerja, padahal mereka bekerja. Tren pekerjaan sekarang bukan lagi job tapi
usaha,” ungkapnya.
Lebih jauh Gubernur menyampaikan,
tingginya lulusan SMK yang terserap oleh dunia kerja merupakan hasil kerja sama
antara Pemerintah Provinsi Kaltara, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dengan
Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang ada di Kaltara. “Melalui Disdikbud telah
mendata kompetensi siswa yang ada, sebelum lulur. Kemudian Disdikbud menawarkan
ke para pelaku dunia usaha maupun industry, lewat bursa tenaga kerja dan MoU
dengan beberapa perusahaan,” kata Irianto.
Pemprov Kaltara, melalui Disdikbud,
tegasnya, terus mendorong SMK yang ada untuk selalu berinovasi. Baik dari sisi
kurikulumnya maupun sistem pembelajarannya. “Kami hadirkan suasana kerja di
sekolah, karena itu saat ini sudah ada SMK yang mengelola industry, meski dalam
skala kecil. Seperti produksi bandeng tanpa duri, pembuatan kerupuk,roti, pupuk,
bahkan ada yang mengelolah Bakteri Pengurai dan yang memiliki café edukasi juga
ada,” kata Kepala Disdikbud Kaltara Sigit Muryono menimpali.
Tahun ini, lanjut Sigit yang
didampingi Kabid SMK, Amat, kombinasi antar pelajaran juga telah dipraktekkan. Misalnya
pelajaran normatif berpasangan sama produktif atau produksi berpasangan dengan
adaptif, maupun adaftif dan normati. Selain bermanfaat untuk siswa, program ini
juga sebagai sarana tukar ilmu antar pengajar. “Pelajaran bahasa Inggris
dikombinasi dengan teknik mesin misalnya. Melalui ini, siswa akan belajar
bagian mesin yang menggunakan bahasa ingris. Jadi saling memahami, dan ini
sudah jalan,” jelasnya.
Program ini, imbuh Sigit, telah disampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) beberapa waktu lalu. Bahkan oleh Kemendikbud, menunjuk Kaltara sebagai pilot project untuk praktek pembelajaran model ini.



Komentar Anda: