Rubrik "MILLENIAL"
Tampilkan postingan dengan label MILLENIAL. Tampilkan semua postingan
Last Updated 2019-03-15T04:44:20Z

EDISI KHUSUS : Pagelaran Respons Kaltara edisi khusus yang menampilkan 8 narasumber dari kalangan millenial berprestasi di Kaltara, Rabu (13/3) malam.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Kegiatan “Respons Kaltara” edisi ke-XXXI yang digelar Rabu (13/03) malam kemarin, sedikit berbeda dengan edisi lainnya. Jika biasanya narasumber yang dihadirkan adalah pimpinan OPD (organisasi perangkat daerah) atau pejabat terkait, kali ini lebih special. Delapan orang narasumber yang hadir dalam acara yang dilangsungkan di Aula Gedung Gabungan Dinas (Gadis) Pemprov Kaltara itu, adalah para milenial muda berbakat.

“(Saya) Milenial untuk Kaltara Terdepan”. Demikian tema yang diangkat pada Respons Kaltara edisi khusus ini. Mengulik tentang rahasia sukses beberapa milenial yang ada di Kaltara, Respons Kaltara kali ini bertujuan untuk menginspirasi para generasi muda atau generasi milenial lainnya yang ada di provinsi termuda di Tanah Air ini.

Dipandu dua narasumber, Susan dan Aulia, acara yang merupakan garapan Bagian Humas pada Biro Humas dan Protokol Sekretariat Provinsi Kaltara ini, tambah semarak, karena turut menghadirkan artis muda dari Jakarta untuk menghibur para audiens yang hadir, yang 
rata-rata anak muda.

Tiga pelajar dan satu atlet berprestasi tingkat internasional,  mengawali sesi pertama dialog. Mereka adalah Ari Pardomuan Manurung, Henry Hoyono dan Novita Aida Dahlia. Tiga siswa SMA Negeri 1 Tarakan ini, berhasil menorehkan prestasi internasional pada ajang yang diikuti.

Ari dan Henry meraih medali emas pada ajang International Science Project Olympiad (ISPO) Tahun 2018 di Bucharest, Rumania, untuk kategori programming. Sedangkan Novita, peraih medali perak ISPO 2018 bidang biologi bersama rekannya, Andrew Januar Willyanto. Novita juga mewakili Indonesia pada ajang Genius Olympiad pada Juni tahun lalu di New York, Amerika Serikat.

Sementara Sabri, menunjukkan dedikasinya lewat prestasi di bidang olahraga. Atlet panjat tebing kelahiran Nunukan, Kaltara itu berhasil meraih medali perak pada ajang Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang. “Generasi muda jangan hanya jadi penonton. Kemajuan teknologi yang begitu cepat. Kita jangan sampai ketinggalan, kita seharusnya bisa menjadi bagian yang mempercepat kemajuan teknologi itu,” kata Ari Pardomuan memberikan ungkapan inspirasi. 

“Terus bermimpi. Bermimpilah setinggi mungkin, agar saat kita jatuh berada di antara bintang-bintang. Artinya bercita-cita lah setinggi mungkin, dan berusahalah untuk bisa mencapainya,” sambung Sabri yang menyampaikan kalimat tak kalah menginspirasi.
Sesi kedua, Respons Kaltara menampilkan dua narasumber wanita yang memiliki dedikasi di bidangnya. Adalah dr Rahmatiah. Dokter muda ini, lahir di Kecamatan Bunyu, 9 Mei 1988. Dia menekuni ilmu kedokteran sejak 2006, dan di 2012 wanita berhijab ini pun diangkat sumpah menjadi dokter umum.

Melihat banyaknya Lansia (Lanjut Usia) di daerah tempatnya bertugas, yang juga tanah kelahirannya, Rahmatiah terpanggil untuk memberikan pelayanan kesehatan.  “Penderita komplikasi penyakit hypertensi dan diabetes melitius tipe II khususnya pada lansia (lanjut usia) di Pulau Bunyu cukup tinggi. Dan, ini juga penyebab kematian tertinggi di Indonesia,” ungkap dr Rahmatia.

Untuk mengurangi tingkat kematian tersebut, dr Rahmatiah pun melakukan inovasi. “Inovasinya berupa pencegahan komplikasi penyakit tidak menular pada lansia dengan menggunakan Mobil TUA (Tanggap Untuk Anda). Mobil ini kita siapkan untuk antar jemput pasien Lansia,” ucapnya.

Beruntungnya, inovasi ini didukung oleh pihak-pihak terkait. “Dengan Mobil TUA ini, para lansia yang berketerbatasan fisik juga kendaraan akan didatangi tim kesehatan dari Puskesmas Bunyu untuk dilakukan pemeriksaan kesehatannya,” urai Dia.

Tidak berhenti sampai di sini, Rahmatiah kini tengah menyiapkan inovasi lain. Yaitu menangani para penderita gangguan jiwa yang menurutnya cukup banyak di Pulau Bunyu. “Harapan saya, pemerintah segera merealisasikan pembangunan Rumah Sakit Pratama di Bunyu. Karena Pulau Bunyu merupakan kepulauan yang dikelilingi laut, untuk merujuk ke rumah sakit Tarakan kalau malam sangat sulit,” harapnya.

Wanita berdedikasi lainnya adalah Mangestiningtyas, seorang guru muda di SMK Negeri 1 Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan.  Esti, demikian biasa disapa. Dia adalah merupakan Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi tingkat nasional tahun 2017. Dedikasinya di dunia pendidikan ditunjukkan dengan keinginan kuatnya untuk mengatasi kendala dalam menyalurkan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, yang kebanyakan anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI). 

"Sebagai jalur lalu lintas TKI, di Sebatik pasti ada kendala dalam pengajaran yang berimbas pada pengetahuan yang dimiliki anak didik kami," kata Esti.
Menariknya, dia ternyata berlatar belakang bukan dari Pendidikan guru. Esti adalah lulusan kedokteran hewan. Panggilan hati membawa dirinya untuk mengabdi menjadi seorang tenaga pendidik.

Sesi terakhir, Respons Kaltara edisi special mendatangkan dua narasumber yang mengispiratip. Dua pengusaha muda sukses, dengan usaha yang jauh berbeda. Satu pengusaha dengan mengandalkan teknologi, satunya lagi adalah petani dan peternak.
Candra Yuswo Widodo namanya. Lewat keahliannya berternak dan bercocok tanam, Candra bersama rekan-rekannya berhasil membudidayakan dan meningkatkan produktivitas ternak dan tanamannya. 

"Saya sebenarnya hanya berusaha menerapkan apa yang saya terima selama kuliah di Fakultas Pertanian Unmul," jelas Ketua Organisasi Karya Mandiri Desa Panca Agung, Kelurahan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan ini. Baginya, membagi kemampuan atau ilmu dengan orang lain adalah berkah juga pahala. "Saya mencoba berbagi ilmu saja, tak lebih. Yang terpenting, masyarakat utamanya petani dapat berhasil dalam usahanya," kata pria yang memiliki cita-cita ingin menjadikan daerahnya sebagai wilayah swasembada pangan itu.

Millenial selanjutnya, adalah Wisian Nugraha Yanuar. Pemuda 25 tahun yang lahir di Kota Tarakan ini, memiliki jiwa entrepreneurship di bidang kewirausahaan yang tinggi.
Di usia terbilang muda itu, alumni pendidikan farmasi apoteker Universitas Surabaya ini sudah menjadi Manajer Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehan Coffee and Eatery, serta apoteker sekaligus penanggung jawab Apotek Dewi Farma. “Kenapa saya memilih membuka usaha sendiri. Selain tak ingin bekerja secara terikat dengan aturan, saya juga berkeinginan menciptakan lapangan kerja bagi warga lainnya. Lebih enak menjadi bos di usaha yang kita miliki dan kelola sendiri,” ujarnya.

Bukan tanpa tantangan, banyak kendala yang dihadapi saat dirinya membuka usaha. Namun karena kegigihan dan semangat pantang menyerah, berbagai kendala bisa diatasi. “Terus mencoba, bereksplorasi, berkreasi. Yakin usaha kita akan berhasil. Pesan saya untuk generasi milenial, manfaatkan waktu yang ada, selagi kita masih muda. Jangan larut dengan hal yang tak bermanfaat. Jadikan waktu yang kita miliki berharga,” kata Wisian mengispirasi.

Acara Respons Kaltara edisi special yang dihadiri oleh Asisten II Sekretariat Provinsi Kaltara H Syaiful Herman yang mewakili Gubernur itu, menjadi lebih semarak karena di sela-sela acara banyak dibagikan berbagai hadiah doorprize kepada para pengunjung. Tak hanya itu, acara juga turut diramaikan oleh berbagai komunitas muda yang ada di ibukota provinsi Kaltara.(humas)
Last Updated 2019-03-12T09:29:22Z

DEDIKASI TINGGI : 3 punggawa muda Kaltara yang berdedikasi di bidangnya masing-masing. Mangestiningtyas, Candra Yuswo Widodo, dan Sabri.
penakaltara.com, Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan (3-habis)
Hasil takkan mengkhianati proses. Mungkin, ini secuil kalimat yang pas untuk ke-3 pemuda Kaltara yang berdedikasi membangun daerah dan masyarakat Kaltara pada bidang masing-masing.

KHAIR ALAM MAULANSYAH, Humas Kaltara

TIGA punggawa muda Kaltara terakhir yang akan menjadi narasumber Respons Kaltara (Reskal) edisi Spesial pada 13 Maret nanti, adalah Mangestiningtyas, Candra Yuswo Widodo, dan Sabri. Mereka memiliki bidang keahlian yang berbeda-beda.

Mangestiningtyas, atau akrab disapa Esti, adalah seorang guru di SMK Negeri 1 Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan. Candra, berprofesi sebagai petani juga menjabat sebagai Ketua Organisasi Karya Mandiri. Sementara Sabri, adalah atlet panjat tebing.  Namun, ada satu hal yang mempersatukan mereka. Yakni, dedikasi dan semangat berjuang serta bekerja keras. Tak hanya untuk meraih prestasi pribadi, tapi juga memajukan masyarakat dan mengharumkan nama daerah dan Provinsi Kaltara.
Esti misalnya, merupakan Juara I Guru SMA/SMK Berdedikasi tingkat nasional tahun 2017. Dedikasinya di dunia pendidikan ditunjukkan dengan keinginan kuatnya untuk mengatasi kendala dalam menyalurkan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, yang kebanyakan anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI). "Sebagai jalur lalu lintas TKI, di Sebatik pasti ada kendala dalam pengajaran yang berimbas pada pengetahuan yang dimiliki anak didik kami," kata Esti.

Belum lagi, keterbatasan sarana-prasana di kawasan 3T itu. Salah satunya, jaringan internet. "Saya merasa, tanggapan dari Pemprov Kaltara terhadap masalah yang ada sudah sangat baik. Melalui Disdik Provinsi Kaltara, kendala ini dapat kami atasi bersama sehingga tak mengganggu proses belajar mengajar," jelas alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ini.

Dedikasi serupa ditunjukkan Candra. Lewat keahliannya berternak dan bercocok tanam, banyak rekan seprofesinya yang berhasil membudidayakan dan meningkatkan produktivitas ternak dan tanamannya. "Saya sebenarnya hanya berusaha menerapkan apa yang saya terima selama kuliah di Fakultas Pertanian Unmul," jelas Ketua Organisasi Karya Mandiri Desa Panca Agung, Kelurahan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan ini.

Baginya, membagi kemampuan atau ilmu dengan orang lain adalah berkah juga pahala. "Saya mencoba berbagi ilmu saja, tak lebih. Yang terpenting, masyarakat utamanya petani dapat berhasil dalam usahanya. Saya juga berterima kasih kepada Pemprov Kaltara yang telah memberikan begitu banyak perhatian kepada petani selama ini," tuturnya.

Di tempat lain, Sabri menunjukkan dedikasinya lewat prestasi di bidang olahraga. Bangganya lagi, prestasi itu dicetaknya pada Asian Games 2018 yang berlangsung di Jakarta dan Palembang. Di event internasional itu, Sabri berhasil menyumbangkan medali perak cabang penjang tebing.

Atlet kelahiran Nunukan, Kaltara ini berhasil meraih medali perak di nomor estafet putra yang berlangsung di Jakabaring Sport City. Atas keberhasilan Sabri menyumbangkan medali perak bagi Indonesia, tentunya membuat kebanggaan masyarakat Indonesia, khususnya Pemprov Kaltara. "Saya berusaha memberikan yang terbaik bagi Indonesia, juga bagi Kaltara lewat kemampuan yang saya miliki," ucapnya.(humas)
Last Updated 2019-03-11T05:55:18Z
MUDA BERPRESTASI : 3 pelajar SMA Negeri 1 Tarakan, Ari, Henry dan Novita yang berhasil menorehkan prestasi pada kejuaraan proyek sains dan riset tingkat pelajar internasional tahun lalu.
TARAKAN | penakaltara.com, Pengalaman mengajarkan banyak hal. Itulah yang memotori 3 pelajar SMA Negeri 1 Tarakan ini untuk mengubah pengalaman menjadi ide untuk karya ilmiah nan bermanfaat bagi masyarakat. Prestasi pun menjadi bonus dari rasa penasaran mereka tersebut.

ANGGRINO GILANG VERLANDO, Humas Kaltara

TAHUN lalu menjadi tahun gemilang bagi Ari Pardomuan Manurung, Henry Hoyono dan Novita Aida Dahlia. Mereka bertiga berhasil menorehkan prestasi internasional pada ajang yang diikuti. Ari dan Henry meraih medali emas pada ajang International Science Project Olympiad (ISPO) Tahun 2018 di Bucharest, Rumania, untuk kategori programming. 
MUDA BERPRESTASI : Novita
Sementara Novita, peraih medali perak ISPO 2018 bidang biologi bersama rekannya, Andrew Januar Willyanto. Novitas juga mewakili Indonesia pada ajang Genius Olympiad pada Juni tahun lalu di New York, Amerika Serikat. Prestasi itu dilahirkan dari buah pemikiran mereka atas pengalaman sehari-hari. Ari dan Henry misalnya, mengaku membuat aplikasi Traion-Spot berdasarkan pengalaman pribadi. 

“Kami merasa selama ini masih kurang informasi mengenai titik rawan kecelakaan, serta angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas. Dari itu, kami sepakat untuk membuat layanan aplikasi Traion–Spot. Aplikasi ini, kami nilai mampu menjadi solusi bagi masyarakat dalam rangka meminimalisir angka kecelakaan, dan angka pelanggaran terhadap peraturan lalu lintas, serta memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” ujar Ari.

2 bulan mengutak-atik komputer dan teknologi lainnya, aplikasi Traion-Spot pun tercipta. “Di aplikasi ini dapat memvisualisasikan titik rawan kecelakaan pada pengguna aplikasi, membuat laporan tentang pelanggaran lalu lintas yang berbuah keuntungan bagi pelapor dalam fitur Train-E Report, dan pengguna juga dapat belajar segala hal yang berkaitan tentang rambu-rambu, peraturan, dan undang-undang lalu lintas dalam fitur Train-Traffic Education,” ucap Henry melengkapi.

Tak jauh berbeda, Novita juga memulai eksperimennya berdasarkan pengalaman pribadinya. “Di Tarakan ini, banyak pesisir pantainya. Disitu juga tumbuh pohon Bakau dengan buah Perepat-nya. Dari banyak jurnal ilmiah yang saya baca, buah Perepat ini ternyata mengandung senyawa kimia yang mampu mengendalikan serangan Rayap Tanah,” ujar Novita.

Nah, mulailah otaknya berpikir untuk melakukan berbagai eksperimen. 2 bulan melakukan ujicoba, Novita sampai pada kesimpulan bahwa buah Perepat memang mampu mengendalikan serangan Rayap Tanah yang biasanya menyerang kayu. “Hasilnya memang cukup memuaskan, serangan Rayap Tanah mampu dikendalikan dan cenderung jauh berkurang setelah kayu diberi zat ekstraktif buah Perepat,” jelasnya. 

Adapun judul riset Novita, yakni pengaruh zat ekstraktif buah Perepat Bakau (Sonneratia alba smith) sebagai anti rayap alami terhadap Rayap Tanah (Coptotermes curvinagtus holmgren) dalam upaya pengendalian serangan rayap.(bersambung)
Last Updated 2019-03-08T03:44:28Z
KAUM MILLENIAL : 2 dari 7 narasumber ResKal edisi spesial, dr Rahmatia dan Wisian Nugraha Yanuar. 

KAUM MILLENIAL : 2 dari 7 narasumber ResKal edisi spesial, dr Rahmatia dan Wisian Nugraha Yanuar. 
BUNYU | penakaltara.com, Dihelat 13 Maret nanti, Respons Kaltara (ResKal) edisi spesial garapan Biro Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol Sekretariat Provinsi (Setprov) Kaltara akan menghadirkan 7 narasumber sekaligus. Siapa saja mereka, ini cuplikan profil mereka.

Mengangkattajuk ‘Saya (Millenial) untuk Kaltara Terdepan’, ResKal edisi khusus ini berupaya menampilkan talenta muda nan kaya prestasi dari provinsi bungsu di Indonesia ini. Pencarian berminggu-minggu pun mendaratkan keputusan tim ResKal kepada 7 kawula muda yang nanti akan diajak ngobrol, sharing informasi dan pengalaman bersama Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie pada 13 Maret mendatang di Gedung Serbaguna Kantor Gabungan Dinas (GADIS) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.

Adalah dr Rahmatia. Pemudi millenial ini, lahir di Kecamatan Bunyu, Kabupaten Bulungan 9 Mei 1988. Mulai menekuni ilmu kedokteran sejak 2006, dan di 2012 wanita berhijab ini pun diangkat sumpah menjadi dokter umum.

Mengandalkan keahliannya itu, dr Rahmatia memfokuskan perhatiannya kepada penderita hypertensi dan diabetis melitius tipe II. “Penderita komplikasi penyakit hypertensi dan diabetes melitius tipe II khususnya pada lansia (lanjut usia) di Pulau Bunyu cukup tinggi. Dan, ini juga penyebab kematian tertinggi di Indonesia,” jelas dr Rahmatia.

Untuk mengurangi tingkat kematian tersebut, dr Rahmatia pun melakukan inovasi. “Inovasinya berupa pencegahan komplikasi penyakit tidak menular pada lansia dengan menggunakan Mobil TUA (Tanggap Untuk Anda),” ucapnya.

Beruntungnya, inovasi ini didukung oleh pihak-pihak terkait. “Dengan Mobil TUA ini, para lansia yang berketerbatasan fisik juga kendaraan akan didatangi tim kesehatan dari Puskesmas Bunyu untuk dilakukan pemeriksaan kesehatannya,” urainya.

Millenial selanjutnya, adalah Wisian Nugraha Yanuar. Pemuda 25 tahun yang lahir di Bumi Paguntaka-sebutan Kota Tarakan-ini, memiliki jiwa entrepreneurship di bidang kewirausahaan yang tinggi.

Di usia terbilang muda itu, alumni pendidikan farmasi apoteker Universitas Surabaya ini sudah menjadi Manager Grab Tarakan, Owner Pondok Lesehatan Coffee and Eatery serta apoteker penanggung jawab Apotek Dewi Farma. “Membawa pengalaman dari hasil perantauan di Pulau Jawa, saya berusaha mengembangkannya di kota kelahiran saya, Tarakan. Itu dasar motivasi saya untuk giat berusaha,” kata Wisian.

Alasan lainnya, Wisian tak ingin bekerja secara terikat dengan aturan serta ingin menciptakan lapangan kerja bagi warga Tarakan lainnya. “Sepertinya, lebih enak menjadi bos di usaha yang kita miliki dan kelola sendiri,” ujarnya.

Sejumlah kesulitan ditemuinya saat memulai mimpinya tersebut. “Saya berusaha mengubah konsep usaha yang ada, dari prioritas family menjadi kalangan anak muda. Juga bagaimana menarik massa untuk mau menikmati layanan yang diberikan. Itu cukup susah dan butuh waktu lama,” paparnya.(bersambung)