Last Updated 2018-04-12T16:24:26Z
Foto Humas Pemprov Kaltara
DOKTER TERBANG : Gubernur Kaltara Dr H Irianto LAmbrie saat meninjau dokter terbang di salah satu fasilitas kesehatan di Pulau Sebatik, Nunukan, belum lama ini.


SEBATIK, Penakaltara.com - PEMENUHAN pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan menjadi perhatian serius pemerintah provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). 

Melalui program ‘dokter terbang’ yang digagas oleh Dr H Irianto Lambrie sejak 2014 lalu, pemerintah menyediakan dokter dan petugas medis untuk melayani warga di daerah-daerah yang sulit terjangkau dan terisolir. Program yang dinilai cukup berhasil dan sangat dirasa manfaatnya oleh masyarakat itu, terus dilakukan setiap tahun, hingga tahun ini. 

“Saya minta program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat terus dilakukan. Seperti salah satunya program dokter terbang ini,” kata Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie.

Gubernur mengatakan, setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas. Tidak terkecuali bagi masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.

Pertimbangan itu lah yang menjadikan tantangan tersendiri bagi Irianto Lambrie yang kala itu (2014) masih menjadi Penjabat (Pj) Gubernur untuk menggagas program pemberian pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Kaltara yang berada di derah terpencil dan terisolir. 

“Program ini dilakukan di daerah perbatasan, terpencil, dan kepulauan agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal,” jelasnya.

Irianto mengatakan, hingga 2018 program ‘dokter terbang’ tetap dilaksanakan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, selaku Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menangani telah berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Nunukan dan Malinau. 

Salah satunya, dalam melakukan penjaringan atau pendataan penyakit di wilayah perbatasan, terpencil dan kepulauan itu. “Dari hasil penjaringan atau pendataan penyakit oleh pemerintah kabupaten ini, bisa kita ketahui atau terdiagnosa penyakit apa yang terbanyak di wilayah itu. Sehingga saat tim dokter turun nanti bisa menyesuaikan,” ujar Irianto.

Lebih lanjut Gubernur memaparkan, selama 2017, terdapat 6 lokasi pelaksanaan pelayanan dokter terbang yang melibatkan dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam. Dengan didampingi paramedis lainnya. “Dalam setahun ada 3 kali kegiatan ‘dokter terbang’. Dilakukan pada tiap triwulan. Di mana setiap 1 kali kegiatan, ada 2 lokasi yang dikunjungi. Sehingga secara keseluruhan ada 6 lokasi yang dikunjungi. Dengan melihat jumlah penduduk dan jumlah penyakit yang diderita,” ungkapnya.

Irianto mengatakan, dalam sekali kegiatan dokter terbang dilakukan selama 2 hingga 3 hari. Tak hanya menangani warga yang mengalami penyakit biasa, jika ada pasien yang darurat juga langsung ditangani. 

“Saya menginginkan agar program dokter terbang diprioritaskan pada desa-desa yang belum pernah didatangi oleh dokter terbang sebelumnya. Seperti pada 2017, minimal 2 dokter spesialis yang akan kita terbangkan,” kata Gubernur lagi.

Terbatasnya sarana prasarana kesehatan, terutama di daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan, merupakan salah satu kendala yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. 

Melalui program dokter terbang di wilayah tersebut, Gubernur berharap masyarakat bisa terbantu.  Karena seperti diketahui, pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk di wilayah yang sulit terjangkau wajib diberikan.


REPORTER : HUMAS PEMPROV
Bagikan:

Unknown

Komentar Anda: