Last Updated 2018-05-20T14:54:59Z
Foto : Ilustrasi/IST



TARAKAN, Penakaltara.com - Masyarakat katagori rumah tangga miskin di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) sudah dua bulan belum menerima beras miskin (raskin) dari pemerintah kota Tarakan.

Padahal, raskin itu sangat membantu meringankan beban mereka. Seorang Ibu Separuh baya yang dikenal sehari-harinya Mama Farul, yang tinggal di jalan Aki Balak  mengatakan, dia bersama warga lainnya yang masuk dalam daftar rumah tangga miskin selama kurun Januari-Desember  2017, tidak pernah lagi menerima raskin pada awal tahun 2018 ini.

"Saya sudah tanya ke RT, tapi menyuruh saya ke kantor lurah. Ketika di kelurahan saya sempat di tahan, karena pak lurah tidak ada,”kata Mama Faruh pada wartawan Penakaltara.com,  Minggu (20/5).

Menurutnya, tahun 2017 lalu mama Farul selalu menerima raskin, dan tidak pernah terlambat maupun tidak dapat seperti saat ini. Ia pun merasa heran, padahal semua syarat untuk mendapatkan raskin telah dipenuhi.

“Saya sudah dapat kartu raskin, tetapi ketik pak RT membagikan raskin dari kelurahan, saya tidak dapat dan kecewa,”ungkapnya saat ditemui di Gubuk deritanya.

Masih kata dia, seharusnya bantuan yang berupa raskin ini berikan kepada orang yang tepat. Masih banyak di wilayah RT 19 yang bernasib sama tidak mendapatkan bantuan tersebut. Malah ada beberapa orang yang terlihat mampu dengan kehidupannya malah mendapatkan bantuan raskin.

“Heran, dan sangat heran. Saya ini bertahan hidup dengan hasil kebun kecil saya. Sedangkan rumah saja saya tidak punya. Hanya numpang di tanah orang dengan rumah kayu yang berukuran kecil,”kesalnya.

Selain itu, awal tahun 2018 bulan Januari lalu saat pembagian pertama raskin, Ia mengaku tidak mendapatkan bantuan. Sehingga dirinya menemui Kepala Kelurahan Karang Anyar untuk menanyakan persoalan pembagian raskin, tetapi tidak mendapatkan hasil. Padahal kepala Lurah telah melihat kartu raskin yang diberikan. Ia mengaku sempat terdengar kata yang keluar dari Lurah “Mungkin pihak Dinsos salah ketik nama bu”.

Mendengar hal itu, Ia mengira bahwa pihak kelurahan akan menindaklanjuti. Karena dari kecocokan data kelurahan di tahun 2017 lalu dengan kartu raskinya memang tercantum namanya.
“Tetapi sudah mau 3 bulan ini, pembagian raskin di bulan Maret tak kunjung saya dapatkan. Saya bingung mau berbuat apa. Dan harus mengeluh dengan siapa lagi,” keluhnya.

Berbeda dengan warga RT 19 lainnya yakni Nurdin. Pria yang memiliki satu anak dan seorang istri ini, harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Pria yang kerjanya hanya seorang petani kecil, tidak tahu harus berbuat apa dengan nasib yang diterimanya.

Nurdin mengaku bahwa setelah pergantian RT yang baru, hak dan kewajibannya yang dulu untuk jatah Raskin, jaminan kesehatan dan beasiswa pendidikan untuk orang kurang mampu tidak diterimanya lagi. Malahan kartu raskin maupun lainnya telah dicabut dan diambil.

“Pak RT nya bilang bahwa kami tidak layak lagi menerima bantuan. Karena dia kira kami sudah kaya, dan dikatakan orang kaya,”kata Nurdin saat ditemui di rumahnya.

Padahal Nurdin selalu kerja tetapi tidak mempunyai penghasilan tetap. Untuk biaya makan dan sekolah anaknya Ia harus berusaha mencari kerja tambahan dengan kerja serabutan. Saat beasiswa pendidikan anaknya tidak diterimanya lagi, Hal itu menjadi beban tambahan. Belum lagi makan sehari-hari, yang dulunya dapat raskin sekarang Ia harus membeli beras dengan uang hasil penjualan panen kebunnya.

Nurdin berharap agar pihak pemerintah khususnya Dinsos harus lebih mengawasi kinerja anggotanya. Kalau perlu terjun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Karena data dari bawah yang dimaksudkan belum tentu sesuai dari hasil lapangannya.

“Makanya, perlu ada tim khusus yang dibentuk untuk melihat kondisi lapangan. Dan perlu adanya evaluasi untuk semua ini. Karena bahaya ketika dibiarkan akan timbul kecemburuan sosial antara warga satu dengan yang lainnya,” tuntasnya.



Rico Jeferson***
Bagikan:

Unknown

Komentar Anda: