![]() |
| Foto : Ilustrasi/IST |
TARAKAN,
Penakaltara.com - Masyarakat katagori rumah tangga miskin di Kota Tarakan,
Kalimantan Utara (Kaltara) sudah dua bulan belum menerima beras miskin (raskin)
dari pemerintah kota Tarakan.
Padahal,
raskin itu sangat membantu meringankan beban mereka. Seorang Ibu Separuh baya
yang dikenal sehari-harinya Mama Farul, yang tinggal di jalan Aki Balak mengatakan,
dia bersama warga lainnya yang masuk dalam daftar rumah tangga miskin selama
kurun Januari-Desember 2017, tidak pernah lagi menerima raskin pada
awal tahun 2018 ini.
"Saya
sudah tanya ke RT, tapi menyuruh saya ke kantor lurah. Ketika di kelurahan saya
sempat di tahan, karena pak lurah tidak ada,”kata Mama Faruh pada wartawan
Penakaltara.com, Minggu (20/5).
Menurutnya, tahun 2017 lalu mama
Farul selalu menerima raskin, dan tidak pernah terlambat maupun tidak dapat
seperti saat ini. Ia pun merasa heran, padahal semua syarat untuk mendapatkan
raskin telah dipenuhi.
“Saya
sudah dapat kartu raskin, tetapi ketik pak RT membagikan raskin dari kelurahan,
saya tidak dapat dan kecewa,”ungkapnya saat ditemui di Gubuk deritanya.
Masih
kata dia, seharusnya bantuan yang berupa raskin ini berikan kepada orang yang
tepat. Masih banyak di wilayah RT 19 yang bernasib sama tidak mendapatkan
bantuan tersebut. Malah ada beberapa orang yang terlihat mampu dengan
kehidupannya malah mendapatkan bantuan raskin.
“Heran,
dan sangat heran. Saya ini bertahan hidup dengan hasil kebun kecil saya.
Sedangkan rumah saja saya tidak punya. Hanya numpang di tanah orang dengan
rumah kayu yang berukuran kecil,”kesalnya.
Selain
itu, awal tahun 2018 bulan Januari lalu saat pembagian pertama raskin, Ia
mengaku tidak mendapatkan bantuan. Sehingga dirinya menemui Kepala Kelurahan
Karang Anyar untuk menanyakan persoalan pembagian raskin, tetapi tidak
mendapatkan hasil. Padahal kepala Lurah telah melihat kartu raskin yang
diberikan. Ia mengaku sempat terdengar kata yang keluar dari Lurah “Mungkin
pihak Dinsos salah ketik nama bu”.
Mendengar
hal itu, Ia mengira bahwa pihak kelurahan akan menindaklanjuti. Karena dari
kecocokan data kelurahan di tahun 2017 lalu dengan kartu raskinya memang
tercantum namanya.
“Tetapi
sudah mau 3 bulan ini, pembagian raskin di bulan Maret tak kunjung saya
dapatkan. Saya bingung mau berbuat apa. Dan harus mengeluh dengan siapa lagi,” keluhnya.
Berbeda
dengan warga RT 19 lainnya yakni Nurdin. Pria yang memiliki satu anak dan
seorang istri ini, harus membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Pria
yang kerjanya hanya seorang petani kecil, tidak tahu harus berbuat apa dengan
nasib yang diterimanya.
Nurdin
mengaku bahwa setelah pergantian RT yang baru, hak dan kewajibannya yang dulu
untuk jatah Raskin, jaminan kesehatan dan beasiswa pendidikan untuk orang
kurang mampu tidak diterimanya lagi. Malahan kartu raskin maupun lainnya telah
dicabut dan diambil.
“Pak
RT nya bilang bahwa kami tidak layak lagi menerima bantuan. Karena dia kira
kami sudah kaya, dan dikatakan orang kaya,”kata Nurdin saat ditemui di rumahnya.
Padahal
Nurdin selalu kerja tetapi tidak mempunyai penghasilan tetap. Untuk biaya makan
dan sekolah anaknya Ia harus berusaha mencari kerja tambahan dengan kerja
serabutan. Saat beasiswa pendidikan anaknya tidak diterimanya lagi, Hal itu
menjadi beban tambahan. Belum lagi makan sehari-hari, yang dulunya dapat raskin
sekarang Ia harus membeli beras dengan uang hasil penjualan panen kebunnya.
Nurdin
berharap agar pihak pemerintah khususnya Dinsos harus lebih mengawasi kinerja
anggotanya. Kalau perlu terjun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang
sebenarnya. Karena data dari bawah yang dimaksudkan belum tentu sesuai dari
hasil lapangannya.
“Makanya,
perlu ada tim khusus yang dibentuk untuk melihat kondisi lapangan. Dan perlu
adanya evaluasi untuk semua ini. Karena bahaya ketika dibiarkan akan timbul
kecemburuan sosial antara warga satu dengan yang lainnya,” tuntasnya.
Rico Jeferson***



Komentar Anda: