TANJUNG SELOR penakaltara.com – Keinginan Gubernur Kaltara Dr H Irianto
Lambrie untuk membentuk Pulau Konservasi Kepiting direspons cepat oleh Dinas
Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara. Kepala DKP Kaltara Amir Bakry mengatakan,
pihaknya akan melibatkan tim ahli dari perguruan tinggi negeri untuk melakukan
survei lanjutan di Pulau Cermin, yang akan menjadi pulau konservasi kepitng.
“Pulau Cermin memenuhi kriteria untuk menjadi salah satu
tempat konservasi habitat kepiting bertelur. Makanya, akan kami kembangkan
sesuai dengan keinginan pak Gubernur,” ujar Amir Bakri pada saat menjadi
narasumber ‘Respons Kaltara’ yang digagas Humas Provinsi Kaltara, Selasa (4/9).
Saat ini, lanjut Amir, tim dari DKP Kaltara sedang
melakukan pemetaan terkait kebutuhan yang diperlukan dalam pembangunan Pulau
Konservasi Kepiting Bertelur, agar penganggarannya dapat segera ditentukan
begitu juga dengan pengurusan ijinnya akan segera dilakukan. “Rencananya pulau
itu akan kami pagar agar oknum yang tidak bertanggung jawab tidak mengambil
kepiting konservasi yang kami lepas,” ujarnya.
Amir menjelaskan, pulau ini kedepannya akan menjadi
pemijahan kepiting bertelur untuk menjaga kelangsungan hidupnya. “Sehingga
dapat terjaga yang bibitnya berasal dari kepiting hasil sitaan maupun yang kita
beli dari nelayan,” lanjut Amir.
Terkait masalah pengelolaannya, Amir menyebut DKP belum
menentukannya. Menurutnya, hal itu akan dibahas setelah pembangunan pulau
konservasi itu rampung. Pasalnya, selain konservasi, tempat itu juga
direncanakan untuk menjadi salah satu kawasan wisata.
“Tergantung hasil pembicaraan nantinya, karena selain
untuk konservasi kepiting bertelur pulau ini kalau bisa nanti akan kami jadikan
tempat wisata sekaligus tempat penelitian untuk akademis,” tambahnya.
Sebagai tambahan informasi, terdapat dua pulau yang telah
disurvei oleh DKP Kaltara, yakni Pulau Cermin dan Pulau Linuang. Namun, yang
memenuhi syarat adalah Pulau Cermin karena areal lahannya sangat cocok untuk
habitat kepiting. Luas lahannya sekira 185 hektare yang berada pada posisi di
muara Bulungan. “Dalam waktu dekat kami
akan melakukan survey lanjutan yang akan didampingi oleh tim ahli dari
Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dan Universitas Borneo Tarakan (UBT),”
ujarnya.
Topik lain yang menjadi pembicaraan adalah, soal
sertifikasi lahan tambak. Amir menyebutkan terdapat 1.562 pemilik yang telah
didata oleh DKP Kaltara untuk diusulkan mendapat sertifikat dari Badan
Pertanahan Nasional (BPN). “Itu jumlah yang akan kami usulkan, kemungkinan akan
bertambah karena masih banyak lahan tambak yang belum terdata oleh kami,” sebut
Amir.
Amir mengakui, masih banyak lahan tambak yang belum
terdata lantaran terjadi kesulitan mencari tahu siapa pemilik lahan tambak itu.
Upaya jemput ‘bola’, katanya sudah sering dilakukan, dan mereka akan terus
melakukan ini sehingga seluruh lahan tambak di Kaltara dapat tersertifikasi.
“Ini sudah kita sosialisasikan ke sejumlah petambak yang
ada. Ya memang kita cukup kesulitan mencari tahu siapa pemiliknya,” jelasnya.
Bagi pemilik lahan tambak yang belum terakomodir, Amir berharap agar dapat ke
DKP Kaltara memberikan data valid terkait lahan tambak yang dimiliki untuk
disertifikasi.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir lagi apalagi
jika itu berkaitan dengan pengukurannya. Pasalnya, saat ini DKP Kaltara
menggunakan teknologi canggih untuk mengukur luas areal lahan tambak yang akan
diusulkan. “Kita tidak perlu lagi datang ke lapangan untuk melakukan pendataan
areal luas lahan tambak, cukup dengan teknologi yang kita miliki, kita sudah
bisa mengetahui berapa luas areal lahannya,” imbuh Amir. (humas)


Komentar Anda: