TARAKAN, penakaltara.com – Pemerintah Indonesia, khususnya Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) di
tahun-tahun mendatang diharapkan tak lagi mengandalkan sumber perekonomiannya
pada pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) mineral. Tapi harus mengalihkan
pandangan pertumbuhan perekonomiannya kepada kegiatan ekspor dan perdagangan.
Demikian
disampaikan
Gubernur Kaltara Dr H
Irianto Lambrie pada
Pertemuan Tahunan Bank
Indonesia (PTBI) bertajuk Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan yang mengangkat
tema
‘Ekspor Sebagai
Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltara’ di Ruang Pertemuan Lantai 2 Gedung Kantor Perwakilan BI Provinsi
Kaltara, Selasa (18/12).
Gubernur
menyampaikan hal itu, berdasarkan pada
informasi dan data yang valid dari BI. “Data yang disampaikan BI ini, selalu aktual, update, valid dan solid. BI Juga selalu mengupayakan adanya inovasi atau perubahan baru,” ujarnya. Terkait
topik pada pertemuan tersebut, diungkapkannya, pada pertumbuhan ekonomi 2018,
Kawasan Timur Indonesia termasuk yang paling rendah kontribusinya untuk
mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Padahal, SDA itu ada di kawasan
ini, utamanya Kalimantan.
“Persoalannya, adalah negara ini masih bertumpu
pada konsumsi, belum pada sisi produksi. Apabila ingin menjadi negara modern,
kita harus mengarahkan
prospek perekonomian kepada
ekspor dan
perdagangan. Apabila dinilai dari sisi itu, maka Pulau Jawa yang terbanyak
karena masyarakatnya banyak. Dari itu, pemerintah di masa mendatang, harus ada
upaya untuk mengubahnya. Kita bicara Indonesia sentris, bukan Jawa sentris,” beber Irianto.
Pun
demikian, Gubernur mengakui bahwa tak bisa dipungkiri bahwa aspek pertambangan masih menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi
terbesar di Kaltara.
“Tapi, dari paparan BI, terlihat bahwa sumbangsih investasi juga cukup besar sekitar 32 persen.
Ini kebanyakan
berasal dari investasi
pemerintah, baik
yang bersumber dari APBN
dan APBD. Kita
juga mampu menarik dana
pusat cukup besar.
Pada 2018 saja, dana APBN yang dialokasikan untuk Kaltara baik
yang dilaksanakan TKDD, Dana Desa dan lainnya sekitar Rp 10 triliun lebih,
sementara penduduknya kurang dari 1 juta jiwa.
Uang
sebesar itu, tak bisa jalan sendiri ke Kaltara. Namun, ada yang mengawalnya,” urai Gubernur.
Gubernur
juga mengomentari soal perkembangan inflasi di Kaltara. Menurutnya, sejauh ini
kondisi inflasi masih sangat terkendali. Termasuk, pertumbuhan angka kredit
yang terus membaik. Namun, defisit transaksi berjalan serta penyaluran Dana
Pihak Ketiga (DPK) perlu mendapat perhatian khusus. “Yang terjadi ini,
dikarenakan adanya kebocoran wilayah. Istilah ini, merujuk kepada banyaknya
orang yang mencari penghidupan di Kaltara, namun menabung atau berinvestasi di
luar Kaltara atau kampung halamannya. Dari itu, saya sangat menyarankan agar
hal tersebut dieliminir dengan banyak menabung di perbankan yang ada di
Kaltara,” jelas Irianto.
Kebocoran
wilayah juga terjadi pada kegiatan ekspor selama ini. Sesuai data BI juga Badan
Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor hingga 2018 di Kaltara mencapai USD 190
juta, dan impor USD 31 juta. Artinya, neraca perdagangan mengalami surplus.
“Pertanyaannya, uangnya kemana? Inilah kebocoran wilayah itu. Sebab,
pembayarannya dilakukan di tempat lain atau negara lain, bukan di Kaltara.
Untuk itu, ekspor harus didorong oleh seluruh pemangku kepentingan yang ada.
Namun, modelnya diubah,” ucap Irianto.
Pengubahan model yang dimaksud, ekspor dari Kaltara tak lagi barang setengah
jadi, namun merupakan barang yang sudah langsung dapat masuk ke market dan
dimanfaatkan masyarakat.
Pemprov
Kaltara sendiri, untuk menopang geliat ekspor dan perdagangan di Kaltara, salah
satu strategi yang diterapkan adalah dengan menyediakan infrastruktur
kelistrikan. “Insya Allah, Februari
2019 akan dimulai konstruksi PLTA Kayan I dengan daya sekitar 900 MW. Semoga
simultan dengan tahap II dan selanjutnya. Listrik yang tersedia ini, akan
digunakan untuk mengembangkan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi juga KBM Tanjung
Selor
dan kepentingan lainnya,” jelas Gubernur.
Soal
investasi, Gubernur berharap dukungan dari semua pihak. “Saya tegaskan, investasi besar dapat datang ke Kaltara dan terealisasi,
sepenuhnya bergantung kepada sikap kepala daerah, masyarakat, tokoh
adat dan pemangku kepentingan lainnya,” tutup Irianto.(humas)



Komentar Anda: