![]() |
| EDISI PERDANA : Kepala Dinkes Kaltara, Usman menjadi narasumber Respons Kaltara, di Tanjung Selor, kemarin (7/2). |
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Peran serta
masyarakat sangat penting dalam mencegah dan memberantas wabah penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD). Utamanya dalam kepeduliannya terhadap lingkungan
masing-masing. Demikian kesimpulan “Respons Kaltara” edisi 29 atau perdana pada
2019 yang menghadirkan sumber dari Dinas Kesehatan (Dinkes), Kamis (7/2) kemarin.
"Di Kaltara semua
daerah dikatakan sebagai endemis DBD. Karena di semua kabupaten/kota di sini
sudah pernah ditemukan DBD. Hal utama yang perlu kita lakukan adalah
pencegahan. Dan di situ peran masyarakat yang paling diharapkan,” ujar Usman,
Kepala Dinkes Kaltara yang hadir sebagai nara sumber Respons Kaltara dengan
tema KLB (kejadian luar biasa) - DBD.
Dikatakan, tindakan
penanganan DBD, tidak hanya oleh pemerintah. Akan tetapi peran masyarakat juga
sangat diperlukan. Mengapa demikian? Karena dalam program yang saat ini sedang
disosialisasikan oleh pemerintah yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),
dengan 3M Plus sangat membutuhkan peran masyarakat.
Sasaran utama gerakan 3M Plus, sendiri, lanjutnya, adalah sarang nyamuk Aedes Aegypti. Dijelaskan, nyamuk jenis ini suka hidup dan berkembang biak di air bersih dan jernih. Aktif di siang hari, sehingga pada waktu itu masyarakat sangat rawan gigitan nyamuk ini.
“Gerakan 3M Plus ini, harus
dilakukan secara kontinue. Caranya, dengan sering menguras tempat penampungan
air, menutup rapat wadah penampungan air dan mengubur barang bekas yang
berpotensi menjadi penampungan air dan bisa dijadikan tempat bertelur nyamuk
Aedes Aegypti,” ungkap Usman yang dalam kesempatan itu didampingi Agust
Suwardi, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltara.
Selain itu, untuk melindungi
diri dari gigitan nyamuk, masyarakat disarankan untuk menggunakan semprotan
pembasmi nyamuk atau lotion. Untuk penanganan secara wilayah, menurut Usman,
telah dilakukan fogging atau pengasapan yang dikoordinir Dinkes kabupaten/kota
se-Kaltara di wilayah yang rawan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. Selain
itu, Dinkes Kaltara juga memberikan dukungan lewat pemberian bubuk abate ke
setiap kabupaten/kota. Sejauh ini, sudah 1.200 botol bubuk abate disebar ke
seluruh kabupaten/kota.
Sementara itu, untuk
melakukan pencegahan dini, Dinkes Kaltara telah membentuk tim gerak cepat
penanganan DBD. Selain itu, Dinkes Kaltara juga mengusulkan pengadaan alat
Rapid Diagnostik Test (RDT), yaitu alat yang digunakan untuk mendiagnosa secara
cepat DBD. “Usulan kita sudah disetujui dari pusat, dan sekarang dalam
perjalanan pengiriman ke Kaltara,” imbuhnya. (humas)




Komentar Anda: