TARAKAN | penakaltara.com, Gubernur Kalimantan Utara
(Kaltara) Dr H Irianto Lambrie mengutarakan jawaban atas 4 persoalan yang
dihadapi perawat di Indonesia, khususnya Kaltara usai membuka Seminar Nasional
Keperawatan dalam rangka HUT Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ke-45
di Gedung Pertemuan Lantai 6 RSUD Tarakan, Minggu (24/3).
Persoalan pertama, terkait upaya
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) profesi perawat. “Upaya terkait
hal ini sudah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, dan telah ada
hasilnya. Ini direalisasikan, karena saya sangat mendukung upaya peningkatan
kualitas SDM, utamanya tenaga kesehatan. Upaya ini akan terus dilakukan, dan
terus dilakukan peningkatan kualitas dan kuantitasnya oleh Pemprov Kaltara,”
kata Gubernur.
Persoalan kedua, terkait usulan
pemberian tunjangan resiko kerja bagi tenaga keperawatan. Dijelaskan Irianto,
untuk urusan yang satu ini, Pemprov Kaltara perlu mengkalkulasikan kemampuan
keuangan daerah dengan berbagai komponen yang menjadi indikator pemberian
tunjangan tersebut. Salah satunya, jumlah tenaga perawat. “Apabila di Kaltara
ada sekitar 3.800 perawat, sementara tunjangan resiko kerja yang diberikan
sekitar Rp 300 ribu per bulan maka dalam setahun dibutuhkan anggaran sekitar Rp
13,8 miliar. Ini jumlah yang tidak sedikit, saya kira,” jelas Gubernur.
Pemberian insentif semacam ini,
sejatinya juga sudah dilakukan Pemprov Kaltara kepada tenaga pendidik dan
kependidikan. “Belajar dari pemberian insentif bagi tenaga pendidik dan
kependidikan ini, dalam perjalanannya, penyalurannya ternyata kurang baik.
Tahun lalu, Pemprov menurunkan tim audit dan hasilnya didapati temuan adanya
insentif guru yang tidak tersalurkan atau semacamnya,” urai Irianto.
Gubernur berharap, apabila tunjangan
resiko kerja kelak direalisasikan, diharapkan hal yang terjadi terjadi terhadap
penyaluran insentif guru tidak terulang. “Untuk mengatasi penyaluran yang
lambat atau tidak lancar ini, Pemprov Kaltara bekerjasama dengan Bankaltimtara
membuat sebuah inovasi, berbentuk kartu ATM untuk para guru penerima insentif.
Jadi, insentif tersebut langsung disalurkan ke rekening penerima. Hal ini
ternyata disambut baik pihak perbankan, dan BNI menawarkan diri untuk bekerjasama
juga,” tutur Irianto.
Dikabarkan, launching kartu ATM tersebut akan dilakukan
pada 4 April mendatang.
Hal lain yang dipikirkan Irianto sebelum
menetapkan pemberian tunjangan resiko kerja, adalah dampak permasalahan yang
akan muncul. “Sekali lagi, untuk usulan tunjangan bagi perawat ini, saya akan
mengkalkulasikannya dengan TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) terkait
kemungkinan direalisasikan, besaran juga resiko yang mungkin timbul. Bila
perlu, Pemprov akan mengajak pemerintah kabupaten/kota di Kaltara untuk
‘urunan’ memberikan tunjangan ini,” ulas Gubernur.
Persoalan ketiga, terkait penempatan
tenaga perawat di setiap desa di Kaltara. “Ini gagasan yang baik, hanya saja
sangat diharapkan bupati dan walikota memiliki pandangan yang sama terkait hal
ini. Dari itu, sebelum memastikan usulan ini terealisasi, pemimpin di setiap
daerah harus mempelajari aturan yang ada sehingga tidak muncul permasalahan
baru setelah dilaksanakan,” ungkap Irianto.
Terakhir, persoalan status honorer dan
upah tenaga keperawatan yang masih dibawah Upah Minimum Regional (UMR). “Untuk
persoalan ini, saya sebenarnya sudah mengajukan usulan kepada Kementerian
PAN-RB (Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) untuk penambahan
tenaga kesehatan dan penyuluh dari jalur honorer. Hanya saja, usulan itu belum
dapat dipenuhi seluruhnya sehingga Kaltara dijatah beberapa orang saja. Menilik
pentingnya hal ini, saya mengajak kepada bupati dan walikota untuk turut
memperjuangkan hal ini bersama Pemprov Kaltara,” tutup Gubernur.
Sebagai informasi, pada kegiatan
tersebut hadir Ketua DPP PPNI Harif Fadhillah, Penasehat IDI Kaltara dr H Jusuf
SK, Walikota Tarakan dr H Khairul dan ketua DPW PPNI se-Kalimantan serta tamu
lainnya.(humas)





Komentar Anda: