![]() |
| Infografis : Jumlah Hotspot atau titik panas dikaltara tahun 2019 berdasarkan pantauan 4 satelit. |
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Kehutanan (Dishut)
membentuk Satuan Tugas (Satgas) pengendalian kebakaran hutan dan lahan
(Karhutla) di setiap kabupaten dan kota yang melibatkan sejumlah instansi
teknis terkait.
Selain itu, pada tahun ini melalui Dana Bagi Hasil (DBH) akan
diberikan bantuan sarana-prasarana untuk pengendalian Karhutla untuk setiap
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Kaltara.
Demikian disampaikan Kepala Dishut Kaltara Syarifuddin di ruang kerjanya,
baru-baru ini.
Dijelaskan Syarifuddin,
tak hanya satgas, Dishut juga membentuk posko pengendalian karhutla. “Ini
didasarkan pada Inpres (Instruksi Presiden) No. 11/2015, tentang Peningkatan
Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta peraturan terkait lainnya,” kata
Syarifuddin.
Sedangkan untuk DBH,
teranggarkan sekitar Rp 8 miliar untuk bantuan sarpras pengendalian karhutla
pada setiap KPH di Kaltara. “Sarpras itu, di antaranya mobile slip on, mesin
pompa portabel, selang pemadam karhutla, peralatan dan perlengkapan petugas
pemadam, drone, alat komunikasi dan motor trail. Untuk prosesnya, saat ini
masih proses lelang,” ungkapnya.
Tak itu saja, Dishut
juga akan membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berperan mengantisipasi
dan mencegah terjadinya karhula di Kaltara. “Nanti, setiap KPH memiliki 2 regu
MPA. Tiap MPA, beranggotakan 15 orang,” jelasnya.
Lebih jauh,
berdasarkan hasil patroli identifikasi serta pengambilan titik hotspot menurut
peta rawan kebakaran hutan, untuk Kaltara, daerah yang benar-benar rawan
karhutla adalah Bulungan dan Malinau. “Kerawanannya, karena kedua wilayah ini
lahannya kering juga kelalaian manusia,” tuturnya.
Sebagai informasi,
langkah antisipasi Dishut tersebut merupakan tindak lanjut dari Radiogram
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terkait peningkatan upaya pengendalian
karhutla di Indonsia. Isi radiogram tersebut, diantaranya prediksi Badan
Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) bahwa el Nino pada Maret 2019 merupakan el
Nino lemah.
Sementara, pada April dan September 2019 diprediksi akan terjadi el
Nino moderat. El Nino sendiri, menyebabkan musim kemarau semakin kering
sehingga karhutla akan semakin mudah terjadi.(humas)




Komentar Anda: