| JELANG PEMILU : Kepala Badan Kesbangpol Kaltara Basiran dan Ketua KPU Provinsi Kaltara Suryanata Al Islami menjadi narasumber pada Respons Kaltara, Selasa (9/4). |
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Pada
penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019, 17 April nanti,
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) menargetkan tingkat
partisipasi pemilih bisa mencapai 77 hingga 80 persen. Demikian disampaikan
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Badan Kesbangpol) Provinsi Kaltara,
Basiran saat menjadi narasumber pada Respons Kaltara (ResKal), Selasa (9/4)
siang.
Keyakinan ini, sekaitan
dengan massifnya upaya Pemprov Kaltara melakukan sosialisasi ke semua lini
basis pemilih, bahkan ke semua wilayah termasuk perbatasan di Kaltara. “Kami
berharap, Pemilu Serentak 2019 dapat dimanfaatkan seluruh masyarakat pemilih di
Kaltara, utamanya yang terdaftar dalam DPT untuk datang ke TPS dan menyalurkan
hak pilihnya,” kata Basiran.
Yang menjadi tantangan dalam
pelaksanaan pemilu kali ini, adalah masih ada wilayah yang sulit dijangkau,
iklim atau cuaca, kesinambungan pasokan listrik dan jaringan telekomunikasi.
“Saya yakin dengan adanya tambahan pemilih sekitar 1.000 orang lebih, Pemprov
antusias partisipasi masyarakat akan tinggi. Pun demikian, kekhawatiran akan
pemadaman listrik perlu antisipasi khususnya dari penyedia jasa, dalam hal ini
PLN. Utamanya, pada saat proses penghitungan suara dan rekapitulasinya,” ungkap
Basiran.
Pemprov Kaltara juga
berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan Pangkalan Utama
Angkatan Laut (Lantamal) XIII untuk melakukan pengawasan di wilayah perairan,
guna mengantisipasi adanya gangguan cuaca yang menghambat para pemilih yang
berprofesi sebagai nelayan untuk sampai ke TPS tepat pada waktunya. “Untuk
pencoblosan di TPS, waktu yang disediakan mulai pukul 07.00 hingga 13.00. Jadi,
saya rasa cukup waktu bagi pemilih yang berprofesi sebagai nelayan untuk ke TPS
dan mencoblos,” jelas Basiran.
Pemprov melalui Badan
Kesbangpol pun telah mensosialisasikan dan berkoordinasi dengan Forum
Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk melakukan pencegahan dini
gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Juga melaksanakan monitoring
pelaksanaan pemilu. “Apabila ada hal yang merugikan pelaksanaan pemilu, Pemprov
akan melaporkannya kepada penyelenggara pemilu. Dan, apabila ada indikasi
tindak pidana, maka akan dilaporkan kepada Bawaslu atau pihak berwenang,” tutur
Basiran.
Narasumber lainnya yang
hadir pada ResKal kali ini, adalah Ketua KPU Provinsi Kaltara, Suryanata Al
Islami. Dalam penjelasannya, Surya mengaku bahwa ada perubahan jumlah pemilih
tetap sesuai rapat pleno perbaikan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Hasil
Perbaikan Ketiga (DPTHP ke-3) tingkat Provinsi Kaltara. “Berdasarkan DPTHP
ke-2, jumlah pemilih pada Pemilu Serentak 2019 adalah 450.108 orang dan jumlah
TPS 2.183 unit. Sementara hasil perbaikan pada DPTHP ke-3, jumlah pemilih
bertambah menjadi 451.656 orang dengan jumlah TPS 2.184 unit,” papar Surya.
Disampaikan juga oleh Surya
mengenai 3 jenis pemilih. Yakni, pemilih yang terdaftar dalam DPT dan dapat
menggunakan hak pilihnya di TPS tempat ia terdaftar. Lalu pemilih dalam Daftar
Pemilih Tambahan (DPTb), yakni pemilih yang terdaftar dalam DPT namun karena
alasan tertentu harus pindah memilih di TPS atau wilayah lain.
“Untuk pemilih
DPTb, tetap dapat dilayani selama waktu pencoblosan berlangsung mulai pukul 7
pagi hingga 1 siang. Hanya saja, ia tidak mendapatkan surat suara seperti
pemilih DPT. Ia hanya diberikan surat suara sesuai kewenangannya menyalurkan
hak suara. Yang pasti, tetap mendapatkan surat suara Pilpres,”Terakhir, pemilih yang
terdaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK).
“Pemilih ini tidak terdaftar dalam
DPT. Namun, mereka mendapatkan hak untuk menyalurkan hak suaranya dimana
domisili mereka berada. Jam pelayanannya, mulai pukul 12 hingga 1 siang.
Jumlahnya tak dibatasi, hanya saja disesuaikan dengan ketersediaan surat suara
yang ada di TPS tempat ia mencoblos. Biasanya, alokasi per TPS yakni sesuai
jumlah pemilih plus 2 persen,” papar Surya.
KPU Kaltara saat ini juga
tengah fokus melakukan pendistribusian logistik pemilu. Baik surat suara,
maupun kotak suara ke tiap TPS di seluruh Kaltara. Logistik tersebut disalurkan
ke KPU kabupaten/kota, untuk kemudian diantar ke tiap TPS yang ada di daerah
masing-masing. Hal lainnya yang juga tak lepas dari perhatian KPU Kaltara,
adalah penyebaran isu hoaks dan ujaran kebencian, serta kesinambungan pasokan
listrik dan jaringan internet.
“Khususnya di wilayah Bulungan, yang memiliki
436 TPS, ketersediaan listrik harus mendapatkan perhatian khusus dari PLN.
Utamanya, saat pencoblosan, penghitungan dan rekapitulasi. Karena, sebagian
besar kegiatan tersebut sangat bergantung kepada pasokan listrik,” tutup
Surya.(humas)




Komentar Anda: