Rubrik "TRANSPORTASI"
Tampilkan postingan dengan label TRANSPORTASI. Tampilkan semua postingan
Last Updated 2019-04-04T07:55:53Z
TRANSPORTASI UDARA : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie saat berada di ruang tunggu penumpang reguler di Bandara Juwata Tarakan, belum lama ini.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Transportasi merupakan salah satu faktor yang cukup mempengaruhi fluktuasi nilai inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Untuk itu, Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr H Irianto Lambrie mengaku Pemerintah Provinsi (Pemprov), melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) intens memperhatikan perkembangannya. Salah satunya, mengenai harga tiket pesawat. 

Kaltara ini, topografisnya berbeda dari daerah lain. Banyak daerah yang sulit dijangkau melalui darat, sehingga harus melalui udara. Dari itu, keberadaan bandara penting, dan tentunya harga tiket pesawat pun menjadi tolok ukur kemampuan masyarakat untuk beraktivitas. Untuk itu, harganya menjadi perhatian, kata Gubernur saat menghadiri Musrenbang RKPD Tahun 2020 Provinsi Kaltara, Selasa (2/4) lalu.

Fluktuatif harga tiket pesawat pun disoroti Gubernur. Tak terkecuali, meroketnya harga tiket pesawat yang terjadi belum lama ini. Terkait kenaikan harga tiket pesawat ini, saya selaku Gubernur Kaltara telah bersurat kepada kementerian terkait, untuk dapat menurunkan harganya. Juga menyesuaikan batas atas dan batas bawah sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat Kaltara khususnya, ungkap Irianto.

Untuk perkembangan aktivitas kebandaraan sendiri, Gubernur mengaku aktivitasnya terus meningkat. Meski harga tiket cukup tinggi, namun aktivitas masyarakat yang mengandalkan pesawat udara di Kaltara, cukup stabil, urai Gubernur.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kaltara, sebanyak 1.074 pesawat datang, dan 1.078 pesawat berangkat dari 6 bandar udara (Bandara) di Kaltara sepanjang Januari hingga Februari 2019. 6 bandara itu, yakni Bandara Juwata Tarakan, Bandara Tanjung Harapan (Bulungan), Bandara Nunukan, Bandara Kol RA Bessing (Malinau), Bandara Yuvai Semaring (Nunukan), dan Bandara Long Apung (Malinau).

Dalam 2 bulan pertama di tahun ini jumlah penumpang yang datang dari 6 bandara tersebut, sebanyak 50.896 orang dan yang berangkat 49.036 orang. Bandara Juwata Tarakan paling tinggi aktivitas kebandaraannya. Tahun ini, pada Januari hingga Februari tercatat pesawat yang datang mencapai 399 unit, dan yang berangkat juga 399 unit. Sementara penumpang yang datang, 37.796 orang, dan yang berangkat 34.958 orang, kata Kepala Dishub Provinsi Kaltara, Taupan Madjid, Rabu (3/4).

Sementara pada 2018, total jumlah penumpang yang datang dari 6 bandara tersebut mencapai 539.630 orang dan yang berangkat 538.146 orang. Dari evaluasi kami, ada 4 bandara yang menjadi pintu bagi pesawat untuk keluar dan masuk Kaltara, yakni Bandara Juwata, Bandara RA Bessing, Bandara Tanjung Harapan dan Bandara Long Apung, tutur Taupan.

Pada 2018, Bandara Juwata Tarakan mencatatkan jumlah penumpang datang sebanyak 504.309 orang dan yang berangkat 511.119 orang. Sementara pesawat yang datang sebanyak 6.010, begitupula yang berangkat. Bandara Juwata menjadi pintu masuk utama bagi transportasi udara di Kaltara. Ini juga ditopang dengan banyaknya maskapai penerbangan yang beraktivitas di bandara tersebut, jelas Taupan.

Sedangkan di 2017, total jumlah penumpang yang datang dari 6 bandara tersebut, menurut data Dishub Kaltara sebanyak 565.757 orang, dan yang berangkat 590.089 orang. Untuk pesawat yang datang sebanyak 12.290 unit, dan yang berangkat 12.524 orang.(humas) 
Last Updated 2018-07-25T16:12:35Z
Foto Humas Pemprov Kaltara
TRAYEK BARU : Bus Damri masih menjadi andalan masyarakat di wilayah Kaltara. Utamanya, yang berada di wilayah Bulungan, Malinau, termasuk Berau di wilayah Kaltim.



TANJUNG SELOR, Penakaltara.com – Semenjak mulai beroperasi pada 2015 lalu, masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara) sangat antusias menyambut adanya trayek angkutan perintis yang dimotori oleh PO Damri (persero). 

Ini merupakan salah satu usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai kepanjangan tangan pusat dalam melakukan layanan transportasi. 

Utamanya, kepada masyarakat yang selama ini belum terjangkau. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara Taupan Madjid mengatakan, sedikitnya ada empat trayek Damri di Kaltara yang sudah jalan. Antara lain tujuan Tanjung Selor-Malinau, Tanjung Selor-Berau, Salang-Malinau dan Tanjung Selor- Mangkupadi yang belum lama dioperasikan Karena angkutan ini merupakan perintis dan disubsidi oleh pemerintah, tarif yang dikenakan sangat rendah. Tarif Damri Tanjung Selor-Malinau misalnya. 

Kepada penumpang hanya dikenakan tarif Rp 130 ribu per orang. Begitu pun dengan Tanjung Selor-Berau yang hanya Rp 50 ribu per penumpang. Menurut Taupan, untuk menjawab tuntutan masyarakat, Dishub Kaltara kembali akan mengusulkan penambahan 2 rute baru yang ditargetkan bisa terealisasi pada 2019. 

Dua rute trayek tersebut yakni, tujuan Tanjung Selor-Kabupaten Tana Tidung (KTT) dan KTT-Malinau. Proses penambahan trayek ini sudah sampai kepada Kementerian Perhubungan. 

“Kita tinggal menunggu hasil akhirnya saja. Untuk menindaklanjuti, kita juga terus melakukan koordinasi kepada kementerian dan pihak Damri sebagai operator,” kata Taupan yang didampingi Kabid Perhubungan Darat, Aswandi.

Selain rencana usulan penambahan trayek, dikatakan, informasi lain yang diperoleh langsung dari pihak Damri, bahwa akan ada penambahan dua unit bus Damri dengan fasilitas pendingin atau Air Conditioner (AC) yang akan menggantikan bus Damri tujuan Tanjung Selor-Malinau. 

“Jika usulan penambahan trayek itu disetujui oleh Kementerian, bus lama itu yang akan digunakan untuk rute Tanjung Selor ke KTT, dan KTT menuju Malinau. Prosesnya hanya tinggal menunggu persetujuan dari Direksi dan tentunya dari BPTD (Balai Pengelolaan Transportasi Darat) Kaltim- Kaltara yang berada di Balikpapan (Katim),” jelasnya.

Taupan menambahkan, untuk pelayanan di Kaltara sendiri, Damri mengoperasikan sebanyak 9 unit bus berkapasitas masing-masing 19 seat. Dua di antaranya berada di perbatasan wilayah Mansalong-Salang, Kabupaten Malinau. Pada 2017, Pemprov juga mengusulkan pengajuan kepada Menteri Perhubungan RI untuk penambahan tiga rute baru (perintis) yang mana merupakan wilayah perbatasan negara yang terisolir dan belum berkembang.  Yakni, Sei Manggaris-SP I /SP II, Pembeliangan- Naputi dan Pembeliangan-Sujau.


REPORTER : HUMAS PEMPROV