TARAKAN, penakaltara.com – Siapa sangka seorang lulusan sarjana perhotelan dan tata boga Surabaya, Eko Pristiawan pernah berjualan sayur di pasar inpres simpang tiga yang sekarang menjadi Grand Tarakan Mall (GTM). Pria yang sekarang menjabat sebagai Trainer Pamong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kaltara ini mempunyai pengalaman pahit dan manis dalam kehidupannya.
Pria yang yang kelahiran Surabaya, 27 mei 1974 ini pernah menjadi likuiditasi Bank di Bali pada tahun 1998. Saat ditemui, oleh penakaltara.com di kediamannya, pria yang akrab di sapa mas Eko, ini menuturkan bahwa pada tahun 2008 ia membentuk usaha mikro kecil hingga tahun 2012. Kemudian tahun 2012 ia menjutkan usaha dibidang pelatihan kuliner mandiri.
“saya sempat datangkan mesin dari bantuan swadaya serta menjual mobil untuk membuka tempat pelatihan,” kata mas Eko, Minggu (14/1).
Dilihat dari kondisi Tarakan sendiri, selain minyak bumi Tarakan mempunyai sumber daya alam (SDA) lain yang berasal dari laut. Melihat potensi yang ada di kota paguntaka ini, eko bersam teman-teman memulai sebuah riset untuk mengembangkan menjadi sebuah produk. Tetapi semua itu dilakukan dengan bekerja sama dengan beberapa komunitas UKM , pemerintah kota (pemkot), pemerintah provinsi (pemprov), serta mengandeng forum CSR BUMN.
“dari pada hasil laut kita dibiarkan, lebih baik dimanfaatkan. Kami juga mengajak rumah kreatif BUMN di Telkom, untuk membantu kegiatan UKM,” ungkapnya.
Tambahnya, Sebelum ia masuk dibidang kuliner dan UMKM, ia pernah merasakan manisnya di bidang media celuler di Samarinda dan Balikpapan pada tahun 2006 hingga 2009. Setelah tahun berikutnya ia mengalami krisis ekonomi dalam persaingan penjualan handphone (HP) sehingga toko yang ia dirikan di tutup. Mesin dan alat untuk perbaikan hp sebelumnya dijual untuk diganti dengan peralatan kuliner.
“saya mengambil usaha kuliner karena dilihat dari kebutuhan masyarakat yang tidak bisa dihindari. Dari anak kecil hingga orang dewasa memang membutuhkan makan dan minum, dan ini menjadi peluang,” tuturnya.
Dalam perjalanan Eko berhasil menggandeng principal dari Jakarta seperti Bogasari, Prochiz, ilandia, GMK Kolata untuk bekerja sama mengembang usahanya. Bukan hanya itu, Ia berhasil mendapatkan hak exclusive dan mendapatkan pelatihan khusus di Jakarta.
“itu merupakan prestasi yang saya banggakan, dan ilmu yang saya dapatkan bisa di bagikan kepada pelaku UKM,” terangnya.
Selain itu, Eko pristiawan juga menyarankan kepada pengusaha kuliner dan UKM di Tarakan, jangan mudah putus asa, kalau memang niat berusaha pasti berhasil. Dari pengalaman yang dialami dirinya untuk membangun usaha, banyak mengalami kepahitan terutama bermasalah di bank. Sehingga dalam waktu ia terpaksa menjual asetnya untuk terhindar dari utang piutang di bank.
“jangan takut kata rugi kalau mau berusaha, doa dan usaha keras yang akan memudahkan pintu rejeki,” tegasnya.
Setiap pengusaha pasti mempunyai strategi yang berbeda. Makanya pengusaha harus mempunyai ide kreatif untuk menjalan kan usaha nya. Masih kata Eko, bahwa ia memiliki kesan yang mendalam untuk usaha kuliner. Tarakan sendiri masih banyak potensi besar dengan jumlah penduduk terbesar di Kaltara untuk peluang usaha kuliner. Tarakan yang merupakan kota Transit, ini merupakan potensi besar.
" pesan-pesan saya untuk teman pelaku UKM, ayo kita menjadi ukm yang modern yang dulunya kita kelola seperti toko atau rumah produksi yang masih tradisional. Ayo kita hijrah, ke ukm yang modern dan profesional. Yang dulunya kita kerjakan secara manual ayo kita go digital. Sekarang ini bagi pelaku ukm seperti saya atau teman-teman yang lain. kalau tidak bisa mengimbangi atau hijrah ke digital, Akan terkikis dan terlindas tidak akan berkembang" pungkasnya.
G.adi Kustanto***
Editor Ricornius Jeferson



Komentar Anda: