JAKARTA, penakaltara.com – Mewakili Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr
H Irianto Lambrie, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Dr Sigit
Muryono menghadiri Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 di Kompleks Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta
Pusat, Minggu (9/12) petang lalu.
Dalam kesempatan itu, sekaligus juga dilakukan
penyerahan dokumen strategi budaya Indonesia yang dihasilkan melalui kongres
tersebut langsung kepada Presiden RI Joko Widodo. Strategi budaya nasional
sendiri, merupakan rangkuman dari strategi budaya daerah dalam bentuk dokumen
Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang sebelumnya diterima dari seluruh
provinsi se-Indonesia. Termasuk dari Kaltara.
Sigit mengatakan, meski
sebagai provinsi termuda, Kaltara termasuk provinsi yang mampu menyelesaikan
penyusunan dokumen PPKD paling cepat. Salah satu hal positif dengan diselesaikannya
PPKD, dikatakannya, Kaltara berhasil memasukkan beberapa karya budayanya untuk
mendapatkan sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional. “Salah satu indikator untuk penilaian terhadap
WBTB, adalah berdasarkan dokumen PPKD yang ditandatangani gubernur.
Alhamdulillah kita dapat menyelesaikan duluan,” kata Sigit.
Diungkapkan Sigit, sesuai data pada PPKD, ada sekitar 405
budaya yang terindentifikasi di Kaltara. Menurutnya, ada dua identifikasi kuat
yang dilakukan Disdikbud, yakni pertama mengenai tenaga guru dan kependidikan.
Terbukti dari database yang dilaporkan, Kaltara merupakan yang
terbaik. Kemudian yang kedua identifikasi berupa database kebudayaan. “Pembuatan dokumen PPKD ini, merupakan amanah
dari Undang-Undang (UU) RI Nomor 5 Tahun 2017, tentang Kemajuan Kebudayaan,” ungkapnya.
Dijelaskan, PPKD merupakan modal awal penyusunan strategi
kebudayaan nasional yang berisi
visi besar arah kemajuan kebudayaan Indonesia. Sigit
menyebutkan, harapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir
Effendy adalah pendataan kebudayaan terus dilakukan dan
dimutakhirkan. Dalam arti tidak berhenti saat sudah ditandatangani oleh kepala
daerah.
Sementara itu dalam arahannya, Presiden Joko Widodo
mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus aktif meluhuri dan melestarikan
budaya bangsa Indonesia. Apalagi mengingat perkembangan zaman dan teknologi
yang semakin cepat serta semakin tingginya penetrasi budaya lain yang masuk ke
Indonesia. “Kita harus selalu ingat untuk terus aktif
meluhuri kebudayaan Indonesia, kebudayaan nusantara dan sekaligus menguatkan
dan mengembangkannya dalam menghadapi perkembangan zaman tersebut, “ kata Presiden.
Presiden meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki
kekhasan sendiri dibanding bangsa-bangsa lain. Menurutnya, kebudayaan dan ilmu
pengetahuan serta peradaban bangsa Indonesia lahir dari pengalaman panjang
menghadapi perkembangan zaman dan upaya dalam memecahkan persoalan-persoalan
yang ada. “Oleh karena itu, mengakar kuat kepada
peradaban Indonesia adalah utama. Namun, menjaga budaya untuk terus tumbuh di
tengah interaksi belantara budaya-budaya dunia adalah tantangannya,” urai Presiden.
Fenomena perkembangan teknologi transportasi dan
informasi yang semakin canggih dan cepat, lanjut Presiden, membuat lalu lintas
dan interaksi budaya semakin padat dan kompleks. Baik itu berupa interaksi
antarkelompok dan antarbangsa, interaksi antarkearifan termasuk interaksi
antara yang lama dengan yang baru. “Tetapi
yang paling penting, adalah budaya kesadaran masyarakat bawah untuk
meraih kesejahteraan guna meraih kemajuan, jangan
sampai sirna. Dan dalam lalu lintas pemikiran dan gagasan yang semakin kompleks
ini memang potensi gesekan juga semakin tinggi. Namun harus diingat peluang
untuk toleransi dan kolaborasi sinergi juga selalu terbuka lebar,” tutur Presiden.
Untuk menghadapi kompleksitas lalu lintas budaya
tersebut, Presiden pun mengimbau semua masyarakat untuk teguh menjaga peradaban
Indonesia sekaligus keterbukaan juga untuk berinteraksi. Selain itu, juga
membangun kesungguhan bersama untuk bertoleransi dan untuk berbagi. “Kita harus menjaga agar interaksi tersebut
tidak didominasi oleh semangat untuk berkontestasi semata, tetapi juga
interaksi tersebut harus dilandasi jiwa toleransi dan semangat untuk berbagi.
Dan orientasi kebudayaan harus tidak keluar dari etos sehari-hari kita, etos
keseharian kita,” tutup Presiden.(humas)


Komentar Anda: