TANJUNG SELOR, penakaltara.com - Secara komulatif tahunan, ekonomi
Kalimantan Utara (Kaltara) pada 2019 ini diprediksikan tumbuh lebih baik
dibanding 2018. Pertumbuhan ekonomi provinsi ke-34 di Tanah Air ini diperkirakan
berada pada range 5,70 persen sampai 6,10 persen.
Angka prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 ini, dikatakan
Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, merupakan proyeksi atas penghitungan oleh
Bank Indonesia Perwakilan Kaltara. Pertumbuhan utama ekonomi di Kaltara,
menurutnya, bakal tertopang oleh membaiknya kinerja lapangan usaha industri
pengolahan yang bersumber dari komoditas CPO (crude palm oil) kelapa sawit, seiring
dengan kenaikan permintaan yang didukung oleh prospek perbaikan harga di 2019.
Gubernur mengungkapkan, berdasarkan hasil Indonesia Palm
Oil Conference (IPOC) 2018, perang dagang AS-Tiongkok diperkirakan berdampak
pada penurunan aktivitas ekspor-impor kacang kedelai. Hal tersebut akan membuat
Tiongkok mencari sumber minyak nabati alternatif sehingga produk sawit Indonesia
dapat menjadi pilihan yang tepat.
Tak hanya dari CPO kelapa sawit, dari lapangan usaha
konstruksi, berlanjutnya pembangunan infrastruktur di Kaltara juga akan turut
menjadi penopang pertumbuhan. "Akselerasi pembangunan infrastruktur oleh
pemerintah daerah diperkirakan akan tetap tinggi di tahun 2019," sebutnya.
Disampaikan, beberapa proyek strategis yang bersifat
multiyears baik dari pemerintah dan swasta, seperti pembangunan PLTA Kayan
Tahap I, Kota Mandiri Tanjung Selor, RSUD Tipe B Tanjung Selor, RS Pertamina
dan gedung perkantoran serta jalan paralel perbatasan, akan menopang
pertumbuhan lapangan usaha konstruksi.
"Konsumsi Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT)
dan konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh lebih tinggi ditopang oleh
dimulainya masa Pilpres dan Pileg tahun 2019 yang akan diselenggarakan pada
pertengahan tahun 2019," ujarnya.
Dalam kaitannya dengan upaya menggenjot pertumbuhan
ekonomi, Gubernur mengatakan, pada tahun-tahun mendatang, khususnya di Kaltara diharapkan
tak lagi mengandalkan sumber perekonomiannya pada pengelolaan Sumber Daya Alam
(SDA) mineral. Tapi harus mengalihkan pandangan pertumbuhan perekonomiannya
kepada kegiatan ekspor dan perdagangan.
Gubernur menyampaikan hal itu, berdasarkan pada informasi
dan data yang valid dari BI. “Data yang disampaikan BI ini, selalu aktual,
update, valid dan solid. BI Juga selalu mengupayakan adanya inovasi atau
perubahan baru,” ujarnya.
Diungkapkannya, pada pertumbuhan ekonomi 2018, Kawasan
Timur Indonesia, tak terkecuali Kalimantan, termasuk yang paling rendah
kontribusinya untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional. Padahal, SDA
itu ada di kawasan ini, utamanya Kalimantan.
“Persoalannya, adalah negara ini masih bertumpu pada konsumsi,
belum pada sisi produksi. Apabila ingin menjadi negara modern, kita harus
mengarahkan prospek perekonomian kepada ekspor dan perdagangan. Apabila dinilai
dari sisi itu, maka Pulau Jawa yang terbanyak karena masyarakatnya banyak. Dari
itu, pemerintah di masa mendatang, harus ada upaya untuk mengubahnya. Kita
bicara Indonesia sentris, bukan Jawa sentris,” beber Irianto.
Pun demikian, Gubernur mengakui bahwa tak bisa dipungkiri
bahwa aspek pertambangan masih menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar
di Kaltara. “Tapi, dari paparan BI, terlihat bahwa sumbangsih investasi juga
cukup besar sekitar 32 persen. Ini kebanyakan berasal dari investasi
pemerintah, baik yang bersumber dari APBN dan APBD. Kita juga mampu menarik
dana pusat cukup besar. Pada 2018 saja, dana APBN yang dialokasikan untuk
Kaltara baik yang dilaksanakan TKDD, Dana Desa dan lainnya sekitar Rp 10
triliun lebih, sementara penduduknya kurang dari 1 juta jiwa. Uang sebesar itu,
tak bisa jalan sendiri ke Kaltara. Namun, ada yang mengawalnya,” urai Gubernur.
Pemprov Kaltara sendiri, ungkapnya, untuk menopang geliat
ekspor dan perdagangan di Kaltara, salah satu strategi yang diterapkan adalah
dengan menyediakan infrastruktur kelistrikan. “Insya Allah, Februari 2019 akan
dimulai konstruksi PLTA Kayan I dengan daya sekitar 900 MW. Semoga simultan
dengan tahap II dan selanjutnya. Listrik yang tersedia ini, akan digunakan
untuk mengembangkan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi juga KBM Tanjung Selor dan
kepentingan lain,” imbuhnya.(humas)



Komentar Anda: