Rubrik "KESEHATAN"
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Last Updated 2019-05-29T08:23:06Z
Infografis : Posko Kesehatan Arus Mudik dan Balik Lebaran 2019.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menyiapkan sedikitnya 15 pos kesehatan yang tersebar di 4 kabupaten/kota untuk melayani pemudik pada arus mudik dan balik lebaran 2019. “Ada 15 pos kesehatan, sedikitnya masing-masing ada 3 titik,” kata Kepala Dinkes Kaltara, Usman usai menghadiri Rapat Staf di Ruang Rapat Kantor Gubernur, Senin (27/5).

Pos kesehatan itu, kata dia, tak hanya diisi tim kesehatan saja. Melainkan ada dari Dinas Perhubungan (Dishub), TNI, Polri dan instansi terkait lainnya. Dinkes Kaltara sendiri telah menunjuk petugas yang akan bertugas di posko kesehatan sebanyak 25 orang.  Meliputi, 2 orang dokter umum dan sisanya paramedis. “Kita juga telah bersurat, dalam surat kita himbau kepada seluruh kabupaten/kota untuk menyiapkan tenaga kesehatannya. Serta mendirikan pos kesehatan di titik-titik arus mudik dan balik lebaran,” ungkap Usman.

Usman menjelaskan, selain petugas kesehatan, nantinya di posko kesehatan juga akan disiapkan mobil ambulans. “Dalam satu posko dua petugas kesehatan. Jika nanti ada pemudik yang sakit atau pemudik yang kecelakaan bisa langsung ditangani, bahkan merujuk ke rumah sakit nantinya,” terangnya.

Ada pun 15 titik posko kesehatan tersebut yakni untuk Kabupaten Bulungan ada di Pelabuhan Speed Besar Sabanar Lama, Simpang KM 2 Jalan Jelarai, Tambangan Penyebrangan Tanjung Palas. Kabupaten Tana Tidung (KTT) ada di Pelabuhan Speed Tidung Pala, dan Pelabuhan Speed Sesayap. Untuk Kabupaten Malinau ada di Bandara R.A Bessing, Pelabuhan Speed Malinau, Pos Jaga Jalan Tanjung Belimbing. 

Dan untuk Kabupaten Nunukan ada di Pelabuhan Speed Nunukan, Pelabuhan Kapal Ferry Nunukan. Sementara di Tarakan, titik pos kesehatan ada di Pasar Gusher, Simpang empat Grand Tarakan Mall (GRM), Pelabuhan SDF, Bandara Juwata, dan Pelabuhan Ferry Juwata. “Untuk titik-titiknya kemungkinan masih bisa bertambah, saat ini kita masih menunggu laporan dari masing-masing kabupaten/kota,” katanya. 

Pos kesehatan lebaran akan dibuka pada H-7 hingga H+7 lebaran. “Untuk warga disampaikan agar tetap menjaga kesehatan selama mudik dan balik lebaran,” timpalnya. (humas)
Last Updated 2019-05-29T07:56:34Z
Infografis : Jadwal Pelaksanaan Dokter Terbang.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Sejak dimulai pada 2014, pelayanan kesehatan ‘jemput bola’ melalui program Dokter Terbang, hingga Mei 2019 ini telah melayani sebanyak 8.163 warga di Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DPTK) yang ada di Kalimantan Utara (Kaltara). Khusus pada 2019 ini, sampai sekarang sudah terlayani 2.107 warga. Terupdate, program pelayanan dengan menyiapkan dokter spesialis ini, bakal dilaksanakan di Puskesmas Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah pada hari ini, 29 Mei 2019.

Untuk diketahui, program Dokter Terbang yang digagas langsung oleh Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie itu, telah dilaksanakan sejak 2014 lalu. Yakni ketika Irianto masih sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Kaltara. Program ini diadakan dengan melihat sulitnya akses masyarakat di wilayah perbatasan, daerah terpencil dan pesisir Kaltara untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Lewat program ini, yaitu dengan sistem jemput bola, Pemprov Kaltara melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mendatangi langsung ke titik-titik jauh yang selama ini kurang terjangkau pelayanan kesehatan. Utamanya layanan dokter spesialis.

“Program ini sudah dijalankan sejak 2014. Bermula saat saya ke daerah, melihat banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Mau ke Puskesmas, apalagi rumah sakit jauh. Utamanya masyarakat di wilayah perbatasan. Mereka harus menggunakan pesawat terbang, untuk bisa keluar berobat, karena akses darat masih sulit. Nah melalui program ini, kita yang mengirimkan tenaga kesehatan dan obat-obatan ke sana,” ungkap Gubernur.

Sejak itu, program pelayanan kesehatan dokter terbang terus berlanjut setiap tahun. Pada 2019 ini, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, dialokasikan dana sebesar Rp 739 juta. Dengan target, untuk pelayanan kesehatan di 14 wilayah DPTK di Kaltara. Sesuai laporan dari Dinas Kesehatan, realisasinya hingga saat ini, sudah melayani 2.107 warga di wilaah DPTK.

“Dalam setiap pelayanan kesehatan ini, kita menurunkan dokter umum dan dokter spesialis. Seperti spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis kandungan, juga apoteker dan perawat,” kata Gubernur yang didampingi Kepala Dinkes Kaltara, Usman.

Dikatakan, selama 2019 hingga saat ini, program layanan kesehatan dokter terbang sudah dilaksanakan di 12 desa di Kaltara. Yaitu di Desa Long Bang, Antal, Liago, Tias dan Silva Rahayu (Kabupaten Bulungan). Kemudian di Sei Nyamuk Sebatik Timur, Desa Long Bawan Krayan, Desa Long Umung, Krayan Timur (Kabupaten Nunukan), serta Desa Metun, Long Loreh, Desa Sesua, dan Desa Gong Solok (Kabupaten Malinau).

Sebagai informasi, Dinkes juga melaksanakan program dokter terbang melalui pelayanan kesehatan gratis pada hari ini, Rabu (29/5) di Kecamatan Sebatik Tengah. Tepatnya di Puskesmas Aji Kuning, Kabupaten Nunukan. “Melalui program dokter terbang ini, diharapkan masyarakat bisa terbantu. Utamanya di wilayah-wilayah yang selama ini sulit mendapat pelayanan kesehatan,” ujar Usman menambahkan. (humas)
Last Updated 2019-05-10T06:17:20Z
SELESAI TAHUN INI : Bangunan Bapelkes Provinsi Kaltara di Jl Rajawali Tanjung Selor, tahun ini akan dilanjutkan untuk tahap kedua.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Dimulai tahun lalu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) membangun gedung Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes). Tahun ini, pembangunan gedung yang berlokasi di Jl Rajawali, Tanjung Selor tersebut memasuki tahap kedua. Melalui APBD 2019 dialokasikan anggaran sebesar Rp 9 miliar, guna menuntaskan bangunan dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5 hektare itu.

Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie mengungkapkan, pembangunan sarana Bapelkes Kaltara bertujuan untuk menunjang pengembangan pembangunan sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan. Di Gedung Bapelkes ini, nantinya, digunakan untuk berbagai kegiatan pelatihan bagi para  tenaga di bidang kesehatan. Baik itu tenaga fungsional maupun profesi.
Infografis : Pembangunan Balai Pelatihan Kesehatan.
Karena belum ada, sejauh ini, kegiatan pelatihan masih dilakukan di Jakarta, bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Dan sifatnya berupa pelatihan yang terakreditasi.

Dengan adanya gedung Bapelkes ini, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), Pemprov Kaltara nantinya akan dapat melakukan sendiri pelatihan yang terakreditasi. Sehingga selain efisiensi waktu, juga efisinsi biaya. Pelatihan nantinya juga diperuntukkan bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota yang adi di Provinsi Kaltara. Bahkan sampai ke tenaga yang bekerja di puskesmas.

“Gedung Bapelkes ini untuk pelatihan kesehatan terutama pelatihan-pelatihan yang terakreditasi. Jadi tenaga kesehatan yang ikut pelatihan nantinya akan memperoleh akreditasi yang dikeluarkan oleh provinsi,” kata Gubernur, yang didampingi Kepala Dinkes Kaltara, Usman.

Terkait dengan penempatan tenaga pelatih di Bapelkes nantinya, lanjut Gubernur, telah dipersiapkan secara bertahap. Dinkes Provinsi Kaltara telah melatih tenaga Training Of Trainer (TOT) dan Management Of Trainer (MOT) terhadap sejumlah SDM yang dimiliki. “Jadi nanti akan ada tenaga dari kita sendiri seperti TOT, MOT dan fasilitator,” ujarnya.

Tahun ini, pembangunan Bapelkes oleh Dinkes Provinsi Kaltara memasuki tahap kedua. Dengan anggaran sebesar Rp 9 Miliar dari APBD Kaltara 2019, pembangunan lanjutan akan dimulai pada bulan ini, setelah sebelumnya selesai dilelang.

Gedung Bapelkes yang targetnya selesai dibangun tahun ini, direncanakan beroperasi pada 2020 mendatang ini, dibangun pada lahan milik Pemerintah Provinsi Kaltara dengan luas hamparan sekitar 5 hektare. Pada tahap pertama pembangunannya, Dinkes Provinsi Kaltara menganggarkan sebesar Rp 8,9 Miliar pada APBD 2018. Pembangunan fisiknya telah dimulai pada tahun 2018 dengan dengan ukuran 19 x 40 meter persegi, berlantai 2. Untuk fasilitasnya, gedung Bapelkes akan seperti gedung diklat yang memiliki ruang belajar, ruang olah raga dan asrama.

Gubernur yang beberapa waktu telah meninjau lokasi itu menjelaskan, keberadaan asrama akan sangat diperlukan karena sifat gedung Bapelkes yang diperuntukkan bagi pelatihan. Tidak menutup kemungkinan pelatihan yang diadakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain dapat menggunakan gedung ini. Seperti Pelatihan Dasar (Latsar) yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Kaltara.

Untuk diketahui, selain gedung Bapelkes, di lahan yang ada, akan dibangun pula sejumlah fasilitas pemerintahan lainnya. Di antaranya, gedung balai pendidikan dan pelatihan terpadu dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kaltara, gudang dan Laboratorium Lingkungan Hidup dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM). (humas)
Last Updated 2019-05-09T07:15:35Z
DOKTER SPESIALIS : Program dokter spesialis terbang kembali rutin digelar.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Program pelayanan kesehatan ke wilayah Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan atau disingkat DTPK di Kalimantan Utara (Kaltara), kembali dilaksanakan oleh jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara. Bulan ini program yang dinamai layanan dokter terbang itu, dilakukan di dua wilayah DTPK di Kabupaten Malinau. Yakni di Desa Gong Solok, Kecamatan Malinau Selatan Hilir dan Desa Sesua, Kecamatan Malinau Barat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara Usman mengatakan, dalam pelayanan kesehatan di Malinau melalui program dokter terbang ini, pihak Dinkes mengirimkan beberapa dokter dan perawat. Termasuk di antaranya dua dokter spesialis. Yakni, dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis anak.

Disebutkan, sebanyak 316 pasien dilayani dalam program layanan kesehatan dengan sistem jemput bola di dua desa itu. Dengan rincian, 138 pasien di Desa Sesua, terdiri dari 67 pasien anak dan 71 pasien berobat kepada dokter spesialis penyakit dalam.

Kemudian di Desa Gong Solok, Malinau Selatan Hilir, kata Usman lagi, masyarakat yang terlayani sebanyak 178 pasien. Terdiri dari 80 pasien spesialis anak dan 98 orang pasien untuk spesialis penyakit dalam.

Usman mengatakan, selama 2019 hingga saat ini, program layanan kesehatan dokter terbang sudah dilaksanakan di 12 desa di Kaltara.  Yaitu di Desa Long Bang, Antal, Liago, Tias dan Silva Rahayu (Kabupaten Bulungan). Kemudian di Sei Nyamuk Sebatik Timur, Desa Long--Bawan Krayan, Desa Long Umung, Krayan Timur (Kabupaten Bulungan), serta Desa Metut, Long Loreh, Desa Sesua, dan Desa Gong Solok (Kabupaten Malinau).

“Selama bulan Ramadan ini, untuk sementara kita tidak  menjadwalkan ada pelayanan dokter terbang atau dokter spesialis. Insya Allah nanti setelah lebaran baru dimulai lagi. Namun demikian, jika sewaktu ada instruksi langsung dari Gubernur untuk dilakukan program ini, kita siap melaksanakan,” ujarnya.

Usman menambahkan, sesuai jadwal yang sudah disusun, program ini selanjut direncanakan bakal dilaksanakan pada 7 desa di wilayah DTPK. Yakni Sesua, Gong Solok, Long Ampung, Long Nawang, Aji kuning, Krayan Barat, Krayan selatan. “Daerah ini masuk dalam kategori DTPK. Untuk sementara dijadwalkan bulan Juni nanti, pelayanan dokter terbang kita laksanakan di Long Ampung dan Long Nawang,” kata Usman.

Mengenai waktu pelaksanaan, imbuhnya, belum bisa dipastikan. Karena juga menyesuaikan kesiapan dokter spesialis yang akan dibawa. Hal ini karena, para dokter spesialis juga memiliki tugas dan tanggung jawab di rumah sakit tempatnya mengabdi. “Begitu pun wilayah mananya, tidak bisa diprediksi. Karena biasanya ada usulan mendadak. Dan itu yang menjadi prioritas kami,” pungkasnya.(humas)
Last Updated 2019-05-01T14:16:26Z

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara, menggelar operasi katarak gratis di Kabupaten Malinau pada 29 dan 30 April 2019.
TANJUNG SELOR | penakaltara.com, Salah satu program andalan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara), adalah program pelayanan kesehatan bagi warga kurang mampu. Ini diwujudkan, lewat sejumlah kegiatan. Salah satunya, operasi katarak gratis melalui program Safari Katarak 2019.

Dijelaskan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, berdasarkan informasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara, operasi katarak gratis ini digelar di Kabupaten Malinau pada 29 dan 30 April 2019. “Realisasinya, yang daftar 150 orang, sementara yang dioperasi hanya 105 orang. Sisanya, diberikan pengobatan saja karena masih ringan dan belum memenuhi syarat operasi,” kata Irianto.

Kegiatan ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Kaltara 2019. Alokasi anggarannya Rp 50 juta, dengan taksiran pasien sekitar 100 pasien. “Dalam kegiatan ini, Pemprov Kaltara bekerjasama dengan BKM (Balai Kesehatan Mata) Makassar,” ucap Gubernur.

Pada kegiatan ini, tenaga medis yang dilibatkan sebanyak 5 orang. “Tahun lalu, safari katarak digelar di Nunukan. Tepatnya di Kecamatan Lumbis, Sebuku dan Tulin Onsoi. Saat itu, pasien yang berhasil dioperasi 94 orang,” jelas Irianto. Pelaksanaan kegiatan ini, diawali dari proses pendeteksian daerah dengan pasien katarak terbanyak.

Kaltara Sehat Lewat Layanan ‘Jemput Bola’
Respons Kaltara (ResKal) edisi Selasa (30/4), mengupas tema ‘pelayanan kesehatan jemput bola’ yang dilaksanakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltara selama ini. Mewakili Kepala Dinkes Kaltara, hadir sebagai narasumber Arief Rahman, selaku Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes).

Pelayanan jemput bola ini, merupakan program yang digagas Pemprov Kaltara sejak awal provinsi ini berdiri. Untuk mendukung program ini, selain menyediakan anggaran khusus, juga telah disiapkan sarana-prasarana penunjang. Salah satunya berupa sarana transportasi untuk penjemputan pasien kurang mampu. 

Dalam hal ini, ada speedboat sebagai ambulans air, hingga mobil ambulans. Juga ada program Dokter Terbang, dengan menyiapkan dokter dan para medis lainnya untuk melayani masyarakat di wilayah perbatasan, pedalaman, terpencil dan pesisir.

"Salah satu pertimbangan dilaksanakannya program ini, adalah Kaltara memiliki topografis dan geografis yang berbentuk kepulauan. Lalu, akses transportasi yang belum merata. Utamanya, di wilayah perbatasan yang masih terisolir," kata Arief.

Untuk layanan kesehatannya, Dinkes menyediakan tak hanya dokter umum tapi juga dokter spesialis. “Dalam pelayanan yang diberikan, kami juga berpatokan pada data jenis penyakit yang paling banyak diderita warga,” ucap Arief.

Mengembangkan pelayanan kesehatan pada program ini, Dinkes pun menggelar operasi katarak gratis di sejumlah wilayah. "Ini dilakukan untuk mendekatkan pelayanan operasi katarak bagi warga di wilayah sasaran. Juga lebih murah dan efisien," jelas Arief.

Khusus program dokter terbang, tim yang dilibatkan di antaranya dokter umum, dokter spesialis, perawat, dan apoteker. "Dalam pelaksanaannya, selain menjadwalkan pelayanan kesehatan, kami juga bekerjasama dengan pihak maskapai penerbangan. Dengan begitu, maskapai sedianya dapat menyesuaikan jadwal penerbangannya ke daerah yang menjadi sasarannya. Ini dilakukan jauh-jauh hari," paparnya. 

Harapannya, pelayanan dokter terbang ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga daerah sasaran yang memang membutuhkan. Adapun jenis penyakit yang biasanya ditemui warga di daerah perbatasan, terisolir dan terdepan, adalah infeksi, malaria, diare, tuberculosis, dan lainnya. 

"Memang ada beberapa kendala dalam pelaksanaan program dokter terbang ini. Seperti penjadwalan terbang oleh maskapai. Lalu, kami berharap volume atau kuantitas program ini dapat ditingkatkan sehingga cakupannya lebih luas dan dapat dinikmati seluruh masyarakat di wilayah perbatasan atau terisolir di Kaltara," tutupnya.(humas)