Rubrik "PERISTIWA"
Tampilkan postingan dengan label PERISTIWA. Tampilkan semua postingan
Last Updated 2018-12-29T02:36:59Z


JAKARTA, penakaltara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat selama tahun 2018, aktivitas gempa di Indonesia meningkat drastis. Jumlah gempa itu mencapai ribuan kali.

Berdasarkan data gempa di Pusat Gempa Nasional BMKG, selama tahun 2018 di wilayah Indonesia terjadi aktivitas gempa sebanyak 11.577 kali dalam berbagai magnitudo dan kedalaman. Sementara pada tahun 2017, jumlah aktivitas gempa yang terjadi hanya 6.929 kali.

"Artinya, selama tahun 2018 telah terjadi peningkatan jumlah aktivitas gempa yang drastis di Indonesia, yaitu 4.648 kejadian gempa tektonik," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono kepada Liputan6.com, Sabtu (29/12/2018).

Berdasarkan magnitudonya, selama tahun 2018 telah terjadi gempa kecil (magnitudo kurang dari 4,0) sebanyak 9.081 kali, gempa Ringan (magnitudo antara 4,1 - 5,0) sebanyak 2.273 kali, gempa menengah (magnitudo antara 5,1 - 6,0) sebanyak 210 kali, gempa kuat (magnitudo antara 6,1 - 7,0) sebanyak 12 kali.

"Dan gempa besar dengan magnitudo antara 7,1 - 8.0 hanya terjadi 1 kali, yaitu Gempa Palu 28 September 2018 (M=7,5) serta gempa dahsyat (kekuatan antara 8,1 - 9,0) selama tahun 2018 tidak terjadi di wilayah Indonesia," ujar dia.

Selama 2018, aktivitas gempa di Indonesia didominasi oleh gempa dangkal kurang dari 60 km yang terjadi 9.585 kali. Selanjutnya gempa kedalaman menengah antara 61-300 km terjadi 1.856 kali. Sedangkan gempa hiposenter dalam di atas 300 km hanya terjadi 136 kali.

"Tingginya aktivitas gempa bumi di Indonesia selama tahun 2018 tersebut disebabkan karena adanya beberapa gempa kuat dan diikuti rangkaian gempa susulan yang banyak," ucap dia.

Selain itu, adanya aktivitas gempa swarm di Mamasa, Sulawesi Barat juga memberikan tambahan jumlah gempa yang sangat signifikan. Sehingga jika dikomulatifkan seluruh aktivitas gempa yang terjadi di Indonesia pada tahun 2018 menjadi jumlah yang sangat besar.

Selama tahun 2018, di Indonesia terjadi gempa merusak sebanyak 23 kali. Yaitu:

1. Gempa Lebak pada 23 Januari 2018 M=6,1 merusak 1.231 rumah, 1 orang meninggal, dan beberapa orang luka-luka.

2. Gempa Geumpang Aceh Barat pada 8 Februari 2018 M=6,3 merusak 11 rumah dan 1 Masjid.

3. Gempa Sumanep pada 13 Juni 2018 M=4,8 merusak 77 rumah dan 6 orang luka-luka.

4. Gempa Lebak pada 7 Juli 2018 M=4,4 merusak 28 rumah.

5. Gempa Muara Teweh pada 12 Juli 2018 M=4,4 merusak beberapa rumah.

6. Gempa Kepulauan Mentawai pada 20 Juli 2018 M=5,2 merusak 12 rumah

7. Gempa Padang Panjang pada 21 Juli 2018 M=5,3 merusak 12 rumah.

8. Gempa Lombok pada 29 Juli 2018 M=6,4 merusak rumah dan menyebabkan orang meninggal dunia.

9. Gempa Lombok pada 5 Agustus 2018 M=7,0 merusak rumah dan menyebabkan orang meninggal dunia.

10. Gempa Lombok pada 9 Agustus 2018 M=5,8 merusak rumah dan menyebabkan orang meninggal.

11. Gempa Manggarai pada 17 Agustus 2018 M=6,2 merusak 151 rumah dan beberapa orang luka-luka.

12. Gempa Lombok pada 19 Agustus 2018 M=6,2 merusak rumah rusak dan menyebabkan orang meninggal.

13. Gempa Lombok M=6,9 19 Agustus 2018 merusak dan menyebabkan orang meninggal. Total korban meninggal gempa Lombok mencapai lebih dari 555 orang dan ribuan rumah rusak.

14. Gempa Donggala dan Palu pada 28 September 2018 M=6,0 menyebabkan rumah rusak dan orang meninggal dunia.

15. Gempa Donggala-Palu 28 September 2018 M=7,5 menyebabkan rumah rusak dan orang meninggal dunia. Total dampak gempa Donggala dan Palu, beserta ikutannya yaitu tsunami dan likuefaksi mencapai lebih dari 2.000 orang meninggal, lebih dari 1000 orang hilang dan merusak ribuan rumah.

16. Gempa Sumba Timur pada 1 Oktober 2018 M=6,0 merusak banyak rumah dan beberapa orang luka.

17. Gempa Sumba timur pada 2 Oktober 2018 M=6,3 merusak banyak rumah.

18. Gempa Sumenep pada 10 Oktober 2018 M=6,4 merusak puluhan rumah dan 3 orang meninggal.

19. Gempa Mamasa pada 3 November 2018 M=4,7 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan.

20. Gempa Mamasa 3 November 2018 M=4,6 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan.

21. Gempa Mamasa 8 November 2018 M=5,1 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan.

22. Gempa Sangihe-Talaud 6 November 2018 M=5,3 merusak beberapa rumah.

23. Gempa Manokwari Selatan 28 Desember 2018 M=6,0 merusak beberapa rumah.

Data 23 gempa merusak tersebut, lanjut Rahmat, sebanyak 19 gempa merusak dipicu aktivitas sesar aktif. Hanya 4 gempa yang dipicu aktivitas subduksi lempeng.

"Jika pada 2017 hanya terjadi gempa merusak sebanyak 19 kali, maka pada tahun 2018 telah terjadi 23 kali, sehingga ada peningkatan jumlah aktivitas gempa merusak di Indonesia," imbuh dia.

Rahmat menjelaskan selama 2018, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tsunami sebanyak 2 kali. Peringatan dini tsunami yang pertama adalah saat terjadi gempa Lombok 5 Agustus 2018 dengan magnitudo M=7,0 dengan status ancaman waspada dengan ketinggian tsunami kurang dari 50 cm.

"Kedua adalah peringatan dini tsunami saat terjadi Gempa Donggala-Palu pada 28 Sep 2018 dengan magnitudo M=7,5 dengan status ancaman siaga dengan tinggi ancaman tsunami 0,5 hingga 3 meter. Kedua peringatan dini tsunami ini benar-benar terbukti terjadi tsunami," ujar dia.

Rahmat menerangkan, jika ditambah peristiwa tsunami Selat Sunda, maka jumlah kejadian tsunami selama 2018 sebanyak 3 kali. Namun demikian tsunami yang bersifat destruktif dan menelan korban jiwa hanyalah Tsunami Donggala-Palu dan Tsunami Selat Sunda yang diduga kuat dipicu oleh longsornya lereng (flank collapse) Gunung Anak Krakatau.

Sumber : liputan6.com


Last Updated 2018-12-28T06:54:23Z


Jakarta, penakaltara.com - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono membantah kabar mengenai potensi tsunami di beberapa wilayah. 

Beredar kabar bahwa wilayah yang akan diterjang tsunami di antaranya Jakarta Utara, Cianjur, Bekasi Utara, Tangerang, dan Serang Banten.

"Dari sebaran lokasinya saja tidak masuk akal, Bekasi Utara, Cianjur, kemudian Tangerang. Jadi, sumber gempa di mana, kemudian tsunaminya di mana, saya pastikan itu hoaks," kata Triyono di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (27/12) malam.
BMKG juga memastikan tidak merilis potensi tsunami di daerah manapun seperti kabar yang dimaksud.

"Kami kan tidak mengeluarkan rilis potensi ancaman tsunami daerah, kami hanya merespons dari Badan Geologi yang telah menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari waspada jadi siaga," lanjutnya.

Triyono menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mempercayai berita-berita hoaks yang beredar tanpa ada pernyataan resmi dari BMKG. 
Selain itu, ia menilai ada sekelompok orang yang memanfaatkan situasi dengan menyebar berita hoaks mengenai potensi tsunami untuk menambah kepanikan masyarakat. 

"Sesungguhnya itu oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memanfaatkan situasi hanya untuk menambah kepanikan, yang mungkin ada target tertentu," tutur Triyono.

Sebelumnya beredar kabar terkait potensi tsunami di beberapa wilayah usai bencana di Selat Sunda. Potensi tsunami itu berada di Jakarta Utara, Bekasi Utara, Cianjur, Tangerang, Serang. Tinggi tsunami di wilayah masing-masing antara 2 hingga 5 meter. (din/osc)
Sumber : CNN Indonesia

Last Updated 2018-12-28T04:28:01Z


JAKARTA, penakaltara.com - Pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan, aliran massa udara dingin dari Asia mendominasi wilayah Indonesia. Kondisi itu diprediksi menyebabkan penghujung tahun 2018, antara 27-31 Desember, di sejumlah wilayah akan diguyur hujan lebat.

"Sejumlah kondisi diperkirakan akan meningkatkan potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode menjelang akhir tahun," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jumat (28/12/2018).
Ia menjelaskan, pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Filipina dan Laut Cina Selatan menyebabkan massa udara dingin dari Asia cukup terkonsentrasi di wilayah utara.

Sementara itu, dominasi pola udara tekanan rendah di sekitar wilayah Australia cukup signifikan dan menyebabkan terbentuknya daerah perlambatan angin dan pertemuan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan.
Seperti dilansir Antara, Mulyono mengatakan, sejumlah daerah yang diprakirakan berpotensi hujan lebat antara lain, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara.
Juga di Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT dan Maluku bagian selatan.

Di sisi lain, beberapa daerah juga berpotensi mengalami angin kencang dengan kecepatan lebih dari 45 km/jam, antara lain di Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku bagian selatan dan Papua Barat.
Potensi Gelombang Laut
Selain itu, potensi gelombang laut dengan ketinggian 2,5-4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Sunda bagian selatan, Perairan Selatan Pulau Jawa hingga Pulau Sumbawa.
Di Selat Bali hingga Selat Lombok, Selat Alas bagian selatan, Samudera Hindia Selatan Banten, Samudera Hindia Selatan Bali hingga NTB.

Perairan Kepulauan Anambas dan Selatan Kepulauan Natuna, Laut Jawa, Perairan Utara Kepulauan Kangean, Perairan Kepulauan Sangihe-Talaud, Perairan Manado-Bitung, Laut Sulawesi bagian tengah hingga timur, Laut Maluku, Perairan Utara Kepulauan Halmahera, Samudera Pasifik Utara, Halmahera hingga Papua Barat.

Gelombang dengan ketinggian empat meter juga berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa Barat hingga Jawa Timur l, Perairan Utara Kepulauan Nias dan Laut Natuna Utara.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan, terutama untuk wilayah-wilayah yang telah mendapat hujan berintensitas tinggi.
Sumber : liputan6.com

Last Updated 2018-12-28T03:32:20Z


SERANG, penakaltara.com - Pemerintah Provinsi Banten menetapkan masa tanggap darurat untuk penanganan musibah tsunami Selat Sunda. Periode itu berlaku selama 14 hari, sejak 27 Desember 2018 sampai 9 Januari 2018.

"Saya menginstruksikan agar penanganan ini terus dilakukan oleh seluruh OPD, hingga pascabencana selanjutnya," kata Wahidin Halim, Gubernur Banten, dalam keterangan tertulisnya, yang diterima Jumat (28/12/2018).

Status tanggap darurat Pemprov Banten, bernomor Nomor 366/Kep.350-Huk/2018 tentang Penetapan status tanggap darurat penanganan bencana tsunami Selat Sunda di Wilayah Provinsi Banten.

Surat itu dikeluarkan berdasarkan surat penetapan tanggap darurat Pemkab Pandeglang nomor 362/Kep.425/2018 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tsunami di Kabupaten Pandeglang dan Keputusan Bupati Serang Nomor 360/Kep.504-Huk/2018 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Tsunami di Kabupaten Serang.
Penanganan tanggap darurat di bawah kendali langsung Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) Banten.

"Dua jam sejak terjadi bencana Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) langsung menurunkan alat-alat berat untuk menormalisasi berbagai akses jalan yang tertutup, sehingga distribusi dan penyaluran bantuan bisa lebih cepat," terangnya.
Daerah Terdampak

Berdasarkan data Pemprov Banten, wilayah yang terdampak bencana tsunami ada di Kecamatan Anyer dan Cinangka untuk di Kabupaten Serang.

Sedangkan Kabupaten Pandeglang, ada di Kecamatan Carita, Labuan, Panimbang, Sukaresmi, Cigeulis, Cibaliung, dan Sumur.

Sementara kerugian material mencapai 526 unit rumah, 33 roda empat, 42 roda dua, dan 14 hotel dan vila, 60 warung kuliner, 215 gazebo, dan 44 unit perahu
"Demikian pula Posko Kesehatan yang ditempatkan di setiap Puskesmas yang dipersiapkan pula obat-obatan dan tim Medis serta dokter dari seluruh Kota/Kabupaten yang ada di Prov Banten. Begitu pula dalam mempersiapkan berbagai sarana untuk tempat pengungsian dan Dapur Umum," jelas Wahidin.
Sumber : liputan6.com

Last Updated 2018-08-07T11:14:26Z
Foto : Adi/ Penakaltara.com
KEBAKARAN : Situasi petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kobakaran api, Selasa (07/08).


TARAKAN, Penakaltara.com - Kebakaran terjadi lagi di Jalan Telaga Air, RT 09 Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan Tengah, Selasa (07/08).

Berdasarkan pantauan Penakaltara.com, Kali ini Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Tarakan melakukan penyelamatan dengan menurunkan 5 unit mobil dan 1 mobil dari PT Pertamina untuk memadamkan api. 

Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa.  Api yang membara pada pukul 10.44 Wita berhasil dipadamkan selama 1 jam. Kerugian fisik sementara baru satu rumah yang terbakar. 

Menurut saksi mata Yanti (52), kebakaran terjadi berasal dari api tungku kayu yang dibuat menggoreng kerupuk. Kejadian tersebut terjadi pada pukul 10.44 Wita.

"Kronologisnya setelah menggoreng kerupuk, si korban tinggal sebentar mas, tapi pas saat dia balik api di tungku sudah membesar, sehingga korban dan temannya lari keluar teriak minta tolong. bukan hanya itu, tidak lama ada ledakan yang saya rasa, itu tabung gas yang terbakar," kata Yanti.

Reporter : Adi


Last Updated 2018-05-17T21:29:44Z
Foto : Istimewa/IST
KEPOLISIAN : Terlihat aparat keamanan lagi melakukan pemeriksaan rumah AS, yang terduga pelaku teroris. 



TARAKAN, Penakaltara.com – Sejak beredarnya vidio ancaman, membuat heboh warga Tarakan terhadap terduga teroris yang masuk di wilayah Kalimantan Utara kemarin malam (16/5). Seluruh personil kepolisian langsung melaksanakan penyelidikan terutama tim Densus 88 langsung berhasil mengamankan pelaku untuk dibawa ke Polres.

Pria yang berhasil diamankan itu berinsialkan AS (22) tinggal di RT 54 Kelurahan Karang Anyar, tepatnya di belakang Perusahaan Nunukan Sakti. Pengamanan terhadap  AS itu terjadi setelah 2 jam usai beredarnya vidionya.

Dikatakan Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyawan bahwa pada pukul 24.22 Wita pelaku berhasil diamankan oleh tim Densus 88 yang bertugas khusus untuk penangkapan teroris.

“Saat penangkapan dan diinterogasi oleh tim kita, AS mengaku berdomisili di Tarakan dan tinggal bersama Ibunya berinisialkan D,” Ungkapnya.

Selain itu, Polres Tarakan bersama Brimob langsung segera mengeladah dan melakukan pemeriksaan di setiap sudut rumah. Karena ditakutkan ada bahan peledak yang sudah disiapkan untuk melakukan aksinya dalam meneror keamanan warga sekitar.

“Makanya kita sterilkan yang disaksikan langsung oleh ibunya AS dan Pak RT setempat. Namun dalam pengeledahan kami tidak menemukan bahan peledak, hanya barang bukti (BB) yang terdapat dividio itu,” jelasnya.

Terduga teroris yang berinisialkan AS tersebut saat ink sudah di bawa ke Mabes Polri sekitar subuh dan AS diketahui merupakan anak pesantren dari Jawa Timur. Masih kata Yudhistira, AS sebelumnya, pulang ke Tarakan karena kondisi fisiknya yang tidak sehat, tetapi setelah lebaran Ia berniat akan kembali lagi ke pesantren untuk melanjutkan kegiatannnya.



REDAKSI***
Last Updated 2018-04-30T15:20:51Z
Foto : Kurniawan/Penakaltara.com
Warga sekitar dan petugas berusaha memadamkan api. Lebih dari 20 rumah warga hangus terbakar dalam peristiwa kebakaram di RT 25 dan 32 Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kota Tarakan, Senin (30/4) sore.


TARAKAN, Penakaltara.com – Peristiwa kebakaran yang terjadi di RT 25 dan 32 Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kota Tarakan, Kalimantan Utara menyisakan kepiluan bagi warga korban kebakaran. Betapa tidak, lebih dari 20 rumah warga hangus terbakar dilalap si jago merah, Senin (30/4) sore.

Peristiwa pilu tersebut juga sempat menimbulkan kepanikan bagi warga sekitar yang berusaha menyelamatkan barang-barang miliknya. Ribuan warga juga ikut menonton peristiwa ini, sehingga sempat memacetkan lalu lintas di Jembatan Bongkok yang berada di dekat lokasi kejadian.
Tidak diketahui jelas sumber api. 

Api yang muncul sekitar pukul 15.50 Wita diduga berawal dari dapur salah satu rumah kontrakan milik warga bernama Hasan, yang berada di belakang deretan gudang kepiting. Rumah petak yang berdempet dengan rumah lainnya tersebut disewakan pada warga.

“Ada yang masak di dapur (penghuni kontrakan). Tabung gas sama korsleting (listrik),” ungkap salah seorang anggota kepolisian yang enggan disebut namanya, (30/4).

Hal senada diungkap salah seorang warga yang menyaksikan kejadian, Badru. Menurutnya api diduga berasal dari aktifitas memasak di dapur di belakang gudang kepiting. 

“(Infonya) lagi masak. Mungkin karena panik,” terangnya.

Sementara salah satu warga sekitar yang ikut menyaksikan kejadian, Jak menuturkan jika sumber api berasal dari satu rumah dan telah menghanguskan lebih dari 20 rumah warga. Angin kencang yang bertiup dari arah laut ditambah rumah yang mayoritas terbuat dari kayu turut jadi penyebab banyaknya rumah yang terbakar. Puluhan rumah kayu dan semi permanen rata dengan jalanan gang berlantai kayu yang dipancang di atas pesisir pantai tersebut.

Ia menyayangkan lambatnya petugas PMK datang ke lokasi kebakaran. “Tadi habis (salat) Ashar (kejadiannya). PMK sekitar 1 jam baru datang,” papar Jak.

Puluhan petugas dari PMK Tarakan, Tagana, Polres Tarakan, Brimob Batalyon A Polda Kaltara, Kodim Tarakan, PMK Pertamina EP Field 5, PMII dan lain-lain dibantu puluhan warga sekitar bahu-membahu memadamkan api dan mengamankan lokasi kejadian. Sekitar 7 armada PMK dikerahkan untuk memadamkan api. Upaya pemadaman dan strelisasi lokasi bahkan dilantau langsung oleh Kapolres dan Wakapolres Tarakan, Sekretaris Kota Tarakan dan DPRD Tarakan.

Beruntung angin kencang dari arah laut yang sedikit mereda, serta lokasi kebakaran yang dekat dengan sumber air memudahkan upaya pemadaman. Pukul 18.16 Wita api berangsur-angsur padam. Hingga padam total usai salat Maghrib sekitar pukul 18.40 Wita.

“Banyak (yang terbakar),” ungkap Aris, PMK Pertamina EP yang ikut membantu pemadaman sambil menyemprotkan air dari selang ke arah api yang tersisa. 


Reporter : Kurniawan

Editor : Rico Jeferson
Last Updated 2018-04-30T10:49:09Z
Foto : Kurniawan/Penakaltara.com
KEBAKARAN : Situasi jalan menuju lokasi kebakaran, beberapa saat lalu.


Tarakan, Penakaltara.com - Asap hitam membumbung ke angkasa. Kebakaran hebat melanda beberapa rumah warga RT 25 Kelurahan Karang Anyar Pantai, Kota Tarakan, Senin (30/4) sore.

Arus lalu lintas di depan kejadian macet total. Sejak pukul 16.30 Wita, sudah dua rumah warga hangus terbakar. Ratusan warga berjubel-jubel di sekitar lokasi kejadian menonton peristiwa ini.

"Sudah dua rumah yang terbakar tadi. Sekarang sekitar 4 rumah lagi terbakar," ungkap Fais Warga Karang Anyar Pantai kepada wartawan, 30/4).

Beberapa mobil pemadam kebakaran sektor barat berupaya memadamkan api. Tidak diketahui pasti penyebab kebakaran. Hingga berita ini diturunkan pukul 17.38 Wita, api masih berkobar hebat karena terpaan angin kencang dari arah laut.

"Tidak tahu (penyebabnya). Anginnya kencang," ungkap Man, warga lainnya yang menonton kejadian.

Selain kebakaran, hari ini peristiwa banjir juga melanda wilayah Kabupaten Bulungan, yakni Peso, Pujungan dan Tanjung Selor.


Reporter : Kurniawan